Dalam peta sejarah industri hiburan dunia, Jepang memiliki satu ikon yang tak lekang oleh waktu, yaitu Kamen Rider. Sejak debut perdananya pada 3 April 1971, waralaba ini telah mendefinisikan genre tokusatsu dan membentuk standar baru bagi pahlawan super di Asia. Era Showa, yang menjadi fondasi utama bagi seluruh semesta Kamen Rider, bukan sekadar hiburan anak-anak, melainkan cerminan keresahan sosial dan eksistensialisme manusia pasca-perang.
Diprakarsai oleh sang maestro komikus Shotaro Ishinomori, Kamen Rider Era Showa mencakup periode penayangan dari tahun 1971 hingga 1994. Siapa saja yang masuk daftar Kamen Rider era Showa? Cek pula sejarah teknis di balik layarnya, serta signifikansi budaya yang membuat mereka tetap relevan hingga dekade ini.
Sejarah Kamen Rider & Daftar Urutan hingga Black RX
Kamen Rider pertama lahir dari kegelisahan terhadap kemajuan teknologi yang tidak terkendali. Takeshi Hongo (diperankan oleh Hiroshi Fujioka), seorang mahasiswa cerdas dengan fisik atletis, diculik oleh organisasi teroris global bernama Shocker. Ia diubah menjadi manusia super (cyborg) berbasis belalang untuk menjadi alat pemusnah massal.
Namun, sebelum proses cuci otak selesai, Hongo berhasil melarikan diri. Dengan kekuatan barunya, ia bersumpah untuk menghancurkan Shocker. Inilah titik awal penggunaan konsep "pahlawan yang menggunakan kekuatan yang sama dengan musuhnya"—sebuah tema yang menjadi ciri khas permanen Kamen Rider.
Ketidakhadiran Hiroshi Fujioka akibat kecelakaan saat syuting kemudian melahirkan Kamen Rider 2 (Hayato Ichimonji). Munculnya Rider kedua ini memperkenalkan tradisi "Henshin" (perubahan wujud dengan pose ikonik), yang meledakkan popularitas serial ini di seluruh Jepang.
Setelah kesuksesan luar biasa Rider pertama, Toei Company memperluas semesta ini dengan sekuel langsung dan seri mandiri. Yang pertama adalah Kamen Rider V3 (1973–1974): Shiro Kazami menjadi Rider yang paling populer di masanya. V3 memiliki "26 Rahasia" dan didampingi oleh Riderman, yang sering dianggap sebagai Rider pendukung pertama.
Berikutnya, ada Kamen Rider X (1974). Serial ini memperkenalkan tema mitologi Yunani dan Rider yang berbasis teknologi kedokteran laut. Keisuke Jin bertarung melawan organisasi G.O.D menggunakan senjata tongkat multifungsi, Ridol.
Selanjutnya, Kamen Rider Amazon (1974–1975) Kamen rider ini merupakan anomali di era Showa. Berbeda dengan Rider lain yang berbasis teknologi cyborg, Amazon (Daisuke Yamamoto) adalah pahlawan liar yang bertarung dengan insting binatang. Seri ini terkenal karena tingkat kekerasannya yang lebih tinggi dan estetika tribal.
Kamen Rider Stronger (1975) menutup saga gelombang pertama dengan tema listrik. Bersama rekannya, Tackle (pahlawan wanita pertama dalam seri ini), Stronger menghadapi organisasi Black Satan. Serial ini mencapai puncaknya dengan episode reuni di mana tujuh Rider legendaris berkumpul untuk pertama kalinya, sebuah tradisi crossover yang terus dilestarikan hingga era Reiwa saat ini.
Setelah sempat vakum selama empat tahun, Kamen Rider kembali ke layar televisi dengan upaya melakukan reboot halus. Ada Skyrider (1979–1980): Awalnya hanya berjudul Kamen Rider, seri ini memperkenalkan Rider yang mampu terbang. Namun, untuk menarik minat penonton lama, para Rider pendahulu dimunculkan kembali untuk melatih Skyrider.
Ada pula Kamen Rider Super-1 (1980–1981). Kamen rider ini menggabungkan eksplorasi luar angkasa dengan seni bela diri Kung Fu. Super-1 memiliki lima set tangan (Five Hands) dengan kekuatan elemen yang berbeda-beda, menjadikannya salah satu Rider paling teknis di era Showa.
Berperan sebagai Ryo Murasame, ZX adalah seorang pilot yang diubah menjadi cyborg oleh organisasi jahat Badan Empire. Dengan motif ninja yang kental dan persenjataan seperti Cross Shuriken, ZX secara resmi dinobatkan sebagai Kamen Rider ke-10, yang sekaligus menjadi simbol persatuan para Rider Showa sebelum memasuki era yang lebih modern.
Keberhasilan BLACK memicu sekuel langsung, Kamen Rider BLACK RX (1988–1989). Ini adalah seri pertama yang memperkenalkan konsep Form Change (perubahan wujud di dalam satu karakter), yaitu Roborider dan Biorider. RX juga menjadi Rider Showa terakhir yang tayang di televisi sebelum kematian Kaisar Hirohito, yang menandai berakhirnya periode Showa secara kalender.
Meski era Heisei sudah dimulai secara kalender pada 1989, 3 tiga film yang etap diklasifikasikan sebagai Rider Showa karena keterlibatan langsung Shotaro Ishinomori dan desain yang masih berakar pada gaya Showa, Rinciannya adalah sebagai berikut.
Kamen Rider Shin (1992): Eksperimen horor yang sangat grafis. Shin bukan lagi cyborg berbaju zirah, melainkan manusia yang bermutasi secara biologis menjadi monster belalang.
Kamen Rider ZO (1993): Film dengan kualitas visual dan efek praktis (prostetik) terbaik di zamannya, menceritakan perjuangan Masaru Aso melawan Organisme Neo.
Kamen Rider J (1994): Memperkenalkan kemampuan Rider untuk tumbuh menjadi raksasa, sebuah kolaborasi estetika yang sempat bersinggungan dengan genre Ultraman.
Daftar lengkap Kamen Rider Era Showa berdasarkan urutan rilis adalah sebagai berkut.
Secara filosofis, Rider Showa adalah representasi dari "Tragedi Manusia Super". Tidak seperti pahlawan Amerika yang sering kali merayakan kekuatannya, Rider Showa menderita karena kekuatan mereka. Mereka adalah orang asing di tengah masyarakat; mereka bukan manusia biasa, tapi mereka juga bukan monster yang mereka lawan.
Penggunaan motif belalang bukanlah tanpa alasan. Ishinomori memilih serangga karena belalang dianggap sebagai "penjaga alam" yang rapuh namun mampu melompat tinggi. Motor yang mereka kendarai (Cyclone, Hurricane, Battle Hopper) melambangkan sinkronisasi antara manusia dan mesin—sebuah pesan bahwa teknologi harus dikendalikan oleh jiwa manusia yang murni agar tidak menjadi alat penghancur.
Warisan Kamen Rider era Showa tetap hidup melalui berbagai remake (seperti Shin Kamen Rider karya Hideaki Anno) dan referensi di era modern. Daftar Kamen Rider era Showa di atas adalah bukti sejarah bagaimana sebuah karakter televisi mampu mengubah lanskap budaya populer Jepang. Bagi para kolektor dan penikmat film, era Showa adalah masa keemasan di mana efek praktis, aksi stunt yang berbahaya, dan narasi kepahlawanan murni menjadi satu kesatuan yang tak tergantikan.
Hingga hari ini, semangat "Keadilan" yang dibawa oleh Hongo Takeshi dan para penerusnya tetap menjadi mercusuar bagi jutaan penggemar di seluruh dunia. Kamen Rider era Showa bukan sekadar nostalgia; ia adalah awal dari sebuah legenda yang tidak akan pernah berhenti berputar (Henshin!).
Jika Anda tertarik membaca artikel lain dari Larukupedia seputar dunia anime, klik di sini.

0 Comments