Advertisement

Penjelasan Ending Attack on Titan: Apa Tujuan Eren Yeager Sebenarnya?

 


Bagaimana penjelasan ending Attack on Titan setelah dirilisnya 2 episode pemungkas yaitu "Nagai Yume" dan "Ano Oka no Ki ni Mukatte"? Apa tujuan Eren Yeager sebenarnya dengan menghancurkan umat manusia memakai Shingeki no Kyojin?

 
Setelah perjalanan panjang selama satu dekade, Attack on Titan (Shingeki no Kyojin) akhirnya mencapai puncaknya. Namun, alih-alih memberikan akhir yang hitam-putih, Hajime Isayama menyuguhkan konklusi yang kompleks, pahit, dan penuh perdebatan. Pertanyaan terbesarnya tetap sama: Mengapa Eren melakukan Rumbling? Apa sebenarnya tujuan akhirnya?

Dalam artikel ini, kita akan membedah secara tuntas segala hal tentang Ending Attack on Titan, mulai dari misteri Paths, pilihan sulit Eren, hingga nasib dunia setelah kehancuran.


1. Memahami Paths: Penjara Waktu sang Attack Titan


Untuk memahami pilihan Eren, kita harus memahami Paths. Sebagai pemegang kekuatan Founding Titan yang terhubung dengan Ymir, Eren tidak lagi melihat waktu secara linear (masa lalu, sekarang, masa depan). Baginya, semuanya terjadi di saat yang bersamaan.

Eren terjebak dalam determinisme. Ia melihat masa depan yang tak terelakkan, bahwa mau bagaimana pun juga ia akan menghancurkan dunia. Meski ia mencoba mencari jalan lain, setiap langkah yang ia ambil selalu menuntunnya kembali ke garis waktu yang sama. Pilihan Eren bukanlah tentang "keinginan bebas" yang murni, melainkan upaya putus asa untuk mencapai satu hasil terbaik dari jutaan kemungkinan yang buruk.


2. Apa Tujuan Sebenarnya dari "The Rumbling"?


Banyak yang mengira Eren benar-benar ingin memusnahkan seluruh umat manusia tanpa sisa. Namun, ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai Eren melalui genosida parsial (80% populasi dunia) ini:
 

Menjadikan Teman-temannya sebagai Pahlawan: Eren ingin dunia melihat rekan-rekannya (Mikasa, Armin, Levi, dll) sebagai penyelamat umat manusia yang berhasil menghentikan "Iblis Pulau Paradis". Dengan begitu, posisi mereka aman di mata dunia yang tersisa.

 

Melindungi Pulau Paradis (Jangka Pendek): Dengan menghancurkan militer dan infrastruktur dunia, Paradis memiliki waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mengejar ketertinggalan teknologi tanpa takut diserang segera. 

 

Menghapus Kutukan Titan: Ini adalah poin paling krusial. Eren tahu bahwa kutukan Titan hanya bisa berakhir jika Ymir Fritz merasa "bebas" dari cintanya yang beracun kepada Raja Fritz.

 

Jika Anda tertarik membaca artikel lain dari Larukupedia seputar dunia anime, klik di sini


3. Peran Mikasa: Kunci Kebebasan Ymir


Selama 2000 tahun, Ymir Fritz terjebak dalam kepatuhan karena cintanya yang tragis kepada sang Raja. Ymir mencari seseorang yang bisa membebaskannya, dan orang itu bukan Eren, melainkan Mikasa Ackerman.

Mengapa Mikasa? Karena Mikasa menunjukkan bahwa seseorang bisa sangat mencintai orang lain (Eren), namun tetap mampu membunuh/menghentikan orang tersebut demi kebaikan dunia yang lebih besar. Saat Mikasa menebas kepala Eren, Ymir melihat sebuah bentuk cinta yang tidak membutakan keadilan. Inilah yang membuat Ymir tersenyum dan akhirnya menghapuskan seluruh kekuatan Titan dari muka bumi.
 

 

4. Nasib Akhir Dunia: Apakah Perdamaian Itu Nyata?


Setelah Rumbling berhenti dan kekuatan Titan hilang, apakah dunia menjadi damai? Jawabannya: Tidak sepenuhnya.

Panel akhir manga dan anime menunjukkan bahwa meskipun konflik skala besar berhenti untuk sementara, kebencian tidak hilang. Paradis menjadi bangsa militeristik di bawah kaum Yeagerist, sementara dunia luar masih menyimpan luka. Isayama ingin menyampaikan pesan realis: Selama manusia masih ada, konflik akan selalu ada. Perang hanyalah bagian dari siklus manusia yang tak berujung.
 

5. Pohon di Akhir Cerita: Siklus yang Berulang?


Di adegan post-credit, kita melihat ribuan tahun berlalu. Paradis yang tadinya maju kini hancur oleh perang modern. Seorang bocah dengan seekor anjing menemukan sebuah pohon besar yang mirip dengan pohon tempat Ymir mendapatkan kekuatan Titan pertama kali.

Ini adalah simbolisme bahwa "kekuatan" atau "keajaiban" itu akan selalu ada, dan bagaimana kekuatan itu digunakan tergantung pada siapa yang menemukannya. Ini adalah akhir yang puitis sekaligus mengerikan, yang menegaskan bahwa sejarah cenderung berulang.


Kesimpulan: Eren Yeager, Pahlawan atau Penjahat?


Eren bukanlah pahlawan konvensional, namun ia juga bukan penjahat tanpa alasan. Ia adalah budak dari kebebasan itu sendiri. Ia mengorbankan kemanusiaannya, cintanya pada Mikasa, dan nyawanya sendiri untuk memberikan "kesempatan" bagi teman-temannya untuk hidup panjang.

Ending Attack on Titan mengajarkan kita bahwa kebebasan selalu memiliki harga yang sangat mahal, dan seringkali, kita hanyalah bidak dari takdir yang kita ciptakan sendiri.



Nah, apakah menurutmu pilihan Eren untuk melakukan Rumbling sudah tepat? Ataukah ada jalan lain yang lebih damai? Tulis pendapatmu di kolom komentar Larukupedia ya!

 

Jangan lupa baca artikel terbaru seputar Attack on Titan di tautan berikut ini. 

Post a Comment

0 Comments