Kenapa Evangelion Adalah Karya Masterpiece (dan HYDE Menyukainya)?

Dunia animasi Jepang telah melahirkan berbagai karya ikonik. Namun, Neon Genesis Evangelion (EVA) garapan sutradara Hideaki Anno dan studio GAINAX pada 1995 berdiri di puncak yang berbeda. 

Kemunculan EVA tidak hanya mengubah peta industri anime secara radikal, tetapi juga menjadi fenomena sosial dan simbol budaya pop Jepang di tingkat global. Daya pikat EVA yang begitu kompleks sekaligus penuh kegelapan psikologis memikat para penggemar hingga menginspirasi deretan seniman terkemuka dunia. 

Salah satu pengagum beratnya adalah HYDE, vokalis L'Arc~en~Ciel dan VAMPS. Bagi figur musik yang dikenal dengan estetika mistis dan kedalaman lirik yang luar bias ini, dunia Evangelion menawarkan tempat bernaung yang selaras dengan jiwa seninya.


Evangelion Sebagai Cermin Resesi Ekonomi dan Refleksi Sosial Era Lost Decade

Untuk memahami kedahsyatan EVA, seseorang harus melihat kondisi sosial-ekonomi Jepang pada dekade 1990-an. Periode ini ditandai oleh pecahnya gelembung ekonomi Jepang pada awal dekade tersebut, yang membawa negara Jepang ke masa stagnasi panjang yang dikenal sebagai Lost Decade atau Dekade yang Hilang. 

Keadaan diperparah oleh rentetan bencana dan tragedi nasional pada tahun 1995, seperti Gempa Bumi Besar Hanshin serta serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo oleh sekte Aum Shinrikyo. Atmosfer sosial yang dipenuhi kecemasan, keterasingan, dan ketakutan akan masa depan inilah yang ditangkap secara tajam oleh Hideaki Anno dalam karyanya.

Dalam studi mengenai fenomena budaya ini, peneliti Jingwen Shila (2022) menjelaskan bahwa dampak dari peristiwa bencana Second Impact dalam anime tersebut berfungsi sebagai alegori dari kekacauan ekonomi Jepang pada tahun 1990-an setelah runtuhnya gelembung harga aset. 

Bencana fiktif Second Impact menjadi metafora visual bagi hancurnya stabilitas ekonomi dan psikologis masyarakat Jepang saat itu. Struktur kota Tokyo-3 yang dibentengi dan dapat menyusut ke bawah tanah juga menggambarkan kondisi psikologis masyarakat. 

Shila menambahkan bahwa meskipun Tokyo-3 menjadi contoh pencapaian teknologi canggih dan perencanaan kota, lokasi tersebut juga menyajikan lingkungan yang sangat dingin dan terisolasi, sebuah dualitas yang mencerminkan meningkatnya rasa keterasingan yang merajalela dalam masyarakat Jepang modern. 

Shinji Ikari Sang Karakter Anti-Hero

Salah satu pilar utama yang menjadikan EVA sebuah mahakarya terletak pada penulisan karakternya yang sangat realistis dan rapuh. 

Anime mecha tradisional umumnya menampilkan protagonis yang pemberani, penuh semangat kesatria, dan siap menyelamatkan dunia. Namun, Shinji Ikari menghancurkan seluruh kriteria idealis tersebut. 

Shinji adalah potret pemuda yang lemah, depresi, merasa tidak memiliki arti hidup, dan selalu berusaha melarikan diri dari kenyataan. Motivasi awalnya mengendarai robot EVA bukanlah untuk menjadi pahlawan kemanusiaan, melainkan semata-mata untuk mencari pengakuan dari ayahnya yang dingin, Gendo Ikari.

Peneliti media Yuan Xiangzhe (2022) mencatat bahwa karakter Shinji Ikari secara tepat menyentuh hati generasi muda Jepang pada masa itu, sehingga hampir semua orang bisa menemukan bayangan diri mereka sendiri dalam sosok Shinji. 

Bukan hanya Shinji, karakter lain seperti Ayanami Rei dan Asuka Langley Soryu juga dibangun dengan kedalaman psikologis yang intens. Shinji mewakili penolakan terhadap tanggung jawab yang dipaksakan oleh generasi tua dan rasa takut akan penolakan. 

Di sisi lain, Asuka menampilkan dorongan berlebih untuk dipuji demi menutupi trauma masa kecil dan ketakutan akan kegagalan. Dalam analisisnya, Jingwen Shila mengamati bahwa pencarian pengakuan tanpa henti yang dilakukan Asuka mencerminkan tekanan sosial yang merajalela di Jepang, ketika kesuksesan dan pencapaian sering kali disejajarkan dengan nilai diri seseorang. 

Sementara itu, karakter Rei Ayanami sebagai klon mempertanyakan hakikat identitas, otonomi diri, dan keberadaan manusia dalam tatanan sosial yang kolektif. Eksplorasi psikoanalisis Freud, Lacan, hingga konsep kepribadian Schopenhauer dimasukkan secara berani lewat dialog batin dan teknik penulisan aliran kesadaran (stream of consciousness).
 

Kedalaman Narasi Evangelion & Simbolisme Agama

EVA tidak menyuapi penontonnya dengan jawaban yang mudah. Alur ceritanya sarat dengan enigma, meninggalkan banyak ruang kosong yang memaksa penonton berpikir, berdiskusi, dan menafsirkan ulang setiap detailnya. 

Sebagaimana diungkapkan oleh Yuan Xiangzhe, layaknya ungkapan bahwa ada seribu karakter Hamlet di mata seribu penonton, setiap orang bisa memiliki pemahaman unik mereka sendiri dalam menikmati dan menafsirkan cerita EVA.

 Misteri ini diperkuat dengan penggunaan simbolisme keagamaan yang sangat pekat. Penggunaan istilah seperti Angel, Dokumen Laut Mati, organisasi misterius SEELE, serta senjata Spear of Longinus dipadukan dengan konsep-konsep esoteris Kabbalah dan Alkitab. 

Selain itu, elemen naratif utama seperti Human Instrumentality Project memberikan dimensi filosofis tentang batas kepribadian individu dan penyatuan jiwa manusia. Gabungan antara fiksi ilmiah, misteri filosofis, dan alegori religius ini menciptakan daya pikat magis yang tidak lekang oleh waktu.

Kedahsyatan EVA juga berlanjut pada teknis produksi dan strategi bisnisnya yang revolusioner. Saat memproduksi versi TV, studio GAINAX mengalami krisis finansial yang sangat parah. Namun, situasi tersebut justru memicu kreativitas luar biasa. 

Hideaki Anno dan timnya memanfaatkan potongan adegan diam, pengulangan gambar, penyuntingan cepat, serta penggunaan teks berukuran besar untuk menghemat anggaran tanpa mengorbankan kualitas artistik. 

Dari sisi komersial, EVA mengubah lanskap industri secara total melalui model komite produksi yang membagikan risiko finansial ke beberapa investor. Strategi ini disempurnakan dengan ekspansi merchandise yang melampaui batas tradisional, mulai dari pakaian, jam tangan, hingga produk barang mewah. 

Xiangzhe juga menyoroti bahwa EVA dikenal luas sebagai raja barang dagangan turunan karena jangkauan lisensinya yang mampu mencakup merek kelas bawah, menengah, hingga merek mewah. Serial TV EVA bahkan mencatatkan rekor penjualan lebih dari 200.000 set cakram, angka luar biasa yang mengubah tolok ukur kesuksesan komersial di Jepang.

Alasan Utama HYDE Sangat Menyukai Evangelion

Keterikatan antara HYDE dan Neon Genesis Evangelion bukanlah rahasia lagi di kalangan penggemar musik rock Jepang. Sebagai frontman L'Arc~en~Ciel—band yang besar di era yang sama dengan meletusnya fenomena EVA—HYDE menemukan resonansi emosional yang mendalam dalam karya Hideaki Anno tersebut. 

Pertama, estetika gothic, apokaliptik, dan kegelapan jiwa dalam EVA sangat selaras dengan visi artistik HYDE. Dalam lagu-lagu ciptaannya, HYDE sering kali mengeksplorasi tema-tema keputusasaan, kegelapan, rasa bersalah, dan pencarian cinta di tengah dunia yang hancur. Konsep Second Impact dan keputusasaan karakter EVA menjadi cermin emosional bagi lirik-lirik puitis yang ia tulis.

Kedua, terdapat kesamaan besar dalam penggunaan simbolisme religius dan dekadensi visual. Sama seperti Evangelion yang secara berani memanfaatkan visualisme salib, malaikat, dan konsep keagamaan untuk menyampaikan pesan filosofis, HYDE juga dikenal sering menyematkan simbolisme religius dalam konsep panggung, video musik, dan gayanya. Penyelaman EVA ke dalam tema dosa, penebusan, dan eksistensialisme menciptakan kecocokan estetika yang sangat kuat bagi HYDE. 

Ketiga, HYDE memiliki empati yang dalam terhadap karakter yang rapuh. Sebagai seorang seniman yang menulis lagu dari sudut pandang kerentanan emosional, figur Shinji Ikari yang penuh pergulatan batin atau Rei Ayanami yang dingin namun penuh misteri memberikan inspirasi naratif yang kaya.

Keempat, keduanya merupakan produk dari simbiosis budaya pop era 1990-an yang sama. L'Arc~en~Ciel dan Neon Genesis Evangelion adalah dua pilar budaya pop Jepang yang mewakili suara generasi muda saat mencari identitas di tengah krisis nilai pasca-kejayaan ekonomi. 

Kekaguman HYDE terhadap EVA adalah bentuk apresiasi antar-seniman yang sama-sama bernapas dalam atmosfer kebudayaan yang sama. Neon Genesis Evangelion bukan sekadar serial animasi robot raksasa, melainkan monumen sejarah yang merekam kegelisahan manusia modern. 

Sebagaimana disimpulkan oleh Shila, dengan menempatkan NERV dalam konteks ketidakpercayaan masyarakat terhadap birokrasi Jepang, menggambarkan Tokyo-3 sebagai metafora daya tahan sekaligus isolasi, serta mengangkat perjalanan pribadi Hideaki Anno, Evangelion berhasil menjadi artefak budaya yang bergaung sangat dalam di hati penontonnya. Daya pikat inilah yang membuat seniman besar seperti HYDE dan jutaan penikmat seni di seluruh dunia terus terpesona oleh Evangelion.

Post a Comment

0 Comments