Mengapa City Pop Jadi Hits Internasional Empat Dekade Setelah Lahir?

 


Di sebuah sudut kamar, jarum pemutar piringan hitam mendarat pelan di atas piringan vinil. Nada bas yang hangat langsung menyenggol pendengaran, disusul ritem gitar halus dan suara sintetis yang membangunkan bayangan tentang jalanan kota berlampu neon. 

Lagu "Plastic Love" milik Mariya Takeuchi atau "Mayonaka no Door (Stay with Me)" dari Miki Matsubara mungkin sudah biasa mampir di telinga anak muda hari ini, padahal lagu-lagu itu direkam empat dekade lalu di Tokyo.

Kembalinya musik pop urban Jepang era 1980-an, yang akrab disebut city pop, menjadi fenomena menarik dalam kebudayaan modern. 

Di aplikasi pemutar musik seperti Spotify hingga algoritma YouTube, jutaan pendengar dari berbagai negara mendadak menyukai lagu-lagu yang dulu sebenarnya dibuat khusus untuk warga kota di Jepang pascaperang. 

Ada daya pikat tersendiri dari melodi era gelembung ekonomi Tokyo ini yang membuatnya terasa pas dengan suasana hati pendengar zaman sekarang.
 

Kilas Balik Era Gelembung Ekonomi: Tempat City Pop Dilahirkan

Untuk memahami ruh musik ini, arah perhatian perlu ditarik mundur ke era 1970-an dan 1980-an. Saat itu Jepang sedang menikmati puncak kejayaan ekonomi setelah bertahun-tahun bangkit dari kehancuran Perang Dunia II. 

Perkembangan teknologi melaju kencang. Kehadiran pemutar kaset jinjing Walkman buatan Sony, radio stereo di dalam mobil, dan instrumen musik elektronik baru mengubah cara orang menikmati lagu. Tokyo berubah menjadi kota megapolitan yang sibuk, dipenuhi gedung tinggi dan pusat hiburan malam yang terus menyala.

Kehidupan warga perkotaan yang makin makmur melahirkan kebutuhan akan gaya hidup baru, termasuk urusan musik. Para musisi muda saat itu enggan terus-terusan memainkan lagu rakyat (folk) berpola sederhana atau musik rock lama. 

Band Happy End, yang digawangi Haruomi Hosono pada awal 1970-an, mendobrak kebiasaan dengan menulis lirik berbahasa Jepang yang dipadu aransemen musik Barat. Langkah itu menjadi fondasi awal lahirnya city pop.

Secara teknis, city pop bukan satu jenis musik tunggal yang kaku, tapi paduan dari bermacam genre. Di dalamnya bercampur funk, R&B, disco, soft rock, boogie, sampai jazz fusion. 

Musisi seperti Tatsuro Yamashita, Toshiki Kadomatsu, Taeko Ohnuki, dan Minako Yoshida merancang lagu menggunakan susunan kord yang rumit. Mereka mempelajari teknik aransemen dari kelompok musik Amerika Serikat seperti Steely Dan atau The Doobie Brothers, lalu mengolahnya kembali dengan tingkat ketelitian tinggi ala produser Jepang.

Lirik lagu juga memotret perubahan cara hidup masyarakat kota. Penyanyi perempuan mulai berani membawakan cerita tentang hubungan asmara yang lugas, kemandirian kerja, hingga suasana malam di kelab malam. 

Gambar sampul album garapan seniman seperti Hiroshi Nagai dan Eizin Suzuki, yang identik dengan pemandangan kolam renang, pantai biru, dan mobil klasik, makin menguatkan kesan santai kelas menengah Tokyo.

Saat perekonomian Jepang merosot pada awal 1990-an, musik ini sempat meredup. Generasi muda Jepang setelahnya bahkan sempat memandang lagu-lagu ini sebagai musik usang yang terlalu gampang dibuat. Namun, karya yang digarap serius secara teknis rupanya punya napas yang panjang.
 

Algoritma Youtube dan Resonansi City Pop di Era Digital

Kembalinya alunan musik city pop ke ruang dengar warga dunia tidak bermula dari promosi besar-besaran label rekaman. Perubahan ini terjadi lewat aktivitas komunitas internet pada awal dekade 2010-an. 

Musisi independen di negara-negara Barat mulai mengulik piringan hitam tua asal Jepang. Mereka mengambil potongan bunyi (sample) dari lagu-lagu 1980-an itu untuk diracik menjadi gaya musik baru seperti vaporwave dan future funk.

Titik baliknya terjadi sekitar tahun 2017 lewat sistem rekomendasi YouTube. Algoritma platform tersebut berulang kali menyodorkan lagu "Plastic Love" karya Mariya Takeuchi ke layar pengguna di berbagai negara. 

Foto sampul hitam-putih yang menampilkan potret wajah Takeuchi tersenyum mendadak akrab di mata publik. Musik yang puluhan tahun lalu dibuat untuk warga Tokyo akhirnya masuk ke telinga anak muda di Amerika, Eropa, hingga Asia Tenggara.

Gelombang ini makin membesar ketika lagu "Mayonaka no Door (Stay with Me)" milik Miki Matsubara ramai dipakai di aplikasi TikTok. 

Lagu tersebut bahkan sempat menempati urutan teratas tangga lagu global di Spotify. Bagi pendengar baru, irama lagu-lagu ini terasa hangat. Ada rasa akrab sekaligus asing yang muncul bersamaan: ketukannya terasa familiar karena berakar dari pop Barat, sementara vokal berbahasa Jepang memberi warna yang tidak biasa.

Pengaruh city pop juga sampai ke negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Musik pop kreatif Indonesia era 1980-an, yang dulu dipelopori Fariz RM dan Chrisye, kini kembali dilirik anak muda karena punya warna bunyi yang mirip.
 

Mengapa Melodi City Pop Tetap Memikat Pendengar Modern?

Keberhasilan lagu-lagu city pop bertahan melintasi jaman didorong oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Pada masa kejayaan ekonomi, perusahaan rekaman di Jepang berani mengeluarkan dana besar untuk proses produksi. Musisi disewakan studio terbaik dan diberi akses ke alat rekaman paling canggih saat itu, sehingga menghasilkan rekaman jernih dengan rincian instrumen yang sangat rapi.

Selain faktor suara, lukisan pada sampul album yang menggambarkan suasana kota dan pantai tropis turut memberi identitas visual yang kuat. Gambar-gambar ini sangat pas dengan kebiasaan pengguna media sosial sekarang yang menyukai estetika visual retro.

Di sisi lain, situasi dunia modern yang penuh tekanan membuat nada-nada gembira namun agak sedih dari city pop terasa menenangkan. Musik ini menawarkan ruang rehat sekaligus imajinasi tentang sebuah era yang penuh harapan akan masa depan. 

Perjalanan city pop yang merentang zaman, dibuat pada 1980-an, tapi jadi hits besar dunia baru pada akhir 2010-an dan awal 2020-an, membuktikan bagaimana musik buatan lokal bisa melintasi batas negara dan zaman karena kualitas komposisinya digarap secara sungguh-sungguh.

Berikut ini timeline perjalanan musik city pop dari era kejayaan hingga era menjadi penguasa musik internasional.

Sisi PerbandinganMasa Kejayaan (1970-an – 1980-an)Pergerakan Baru (2010-an – Sekarang)
Pusat PendengarWarga perkotaan di Jepang.Pendengar muda di berbagai negara melalui media digital.
Media UtamaPiringan hitam, kaset pita, radio FM, dan Walkman.Spotify, YouTube, TikTok, serta cetak ulang piringan hitam.
Cara PenggarapanStudio rekaman mahal, kord jazz yang rumit, serta susunan instrumen yang detail.Pengolahan sampel lagu (sampling) untuk musik elektronik baru dan apresiasi lagu asli.
Daya Tarik UtamaPotret gaya hidup modern dan kemajuan ekonomi Jepang.Rasa nostalgia, visual retro, dan rasa rileks saat mendengarkan lagunya.

Post a Comment

0 Comments