Mengenal Era Taisho di Kimetsu no Yaiba, Zaman antara Meiji ke Showa


Sebuah kereta uap hitam melaju membelah kegelapan malam, mengepulkan asap tebal ke udara dingin pegunungan. Di dalam gerbong, lampu-lampu listrik memancarkan cahaya kekuningan yang menerangi para penumpang bersetelan jas Barat serta wanita berkimono. 

Di atap gerbong yang sama, seorang pemuda bermotif papan catur hijau-hitam berdiri bersiap menggenggam pedang nichirin miliknya. 

Visual kontras dalam serial manga Kimetsu no Yaiba ini hadir sebagai cerminan nyata dari sebuah masa singkat namun sangat krusial dalam sejarah Jepang: Era Taisho yang menjadi jembatan era Meiji menuju era Showa.

Bagi penikmat anime dan manga, latar waktu Kimetsu no Yaiba sering kali terasa unik. Cerita ini tidak berlatar di era Sengoku yang dipenuhi para samurai tangguh berzirah berat, tidak pula berada di era Edo yang terisolasi ketat. 

Kisah perjalanan Tanjiro Kamado ditempatkan pada rentang waktu antara tahun 1912 hingga 1926. Masa yang dijepit oleh Era Meiji di satu sisi dan Era Showa di sisi lain ini menyimpan dinamika sosial, politik, serta budaya yang menjadi fondasi utama seluruh atmosfer cerita Kimetsu no Yaiba.
 

Era Taisho di Antara Dua Raksasa Sejarah

Untuk memahami betapa uniknya era Taisho, pandangan perlu ditarik pada rentang sejarah yang mengapitnya. Sebelum Taisho lahir, Jepang melewati Era Meiji dari tahun 1868 sampai 1912. 

Meiji adalah masa perombakan besar-besaran. Restorasi Meiji meruntuhkan kekuasaan keshogunan Tokugawa, mengakhiri dominasi kasta samurai, dan membuka pintu isolasi negara yang telah berlangsung ratusan tahun. Pemerintah Meiji secara agresif menyerap teknologi, hukum, hingga militer ala Barat demi membangun benteng pertahanan dari pengaruh kolonialisme asing.

Setelah Kaisar Meiji wafat pada tahun 1912, takhta diserahkan kepada putranya, Kaisar Taisho. Masa kekuasaannya relatif singkat, hanya berlangsung selama empat belas tahun sampai wafatnya sang kaisar pada tahun 1926. 

Kedudukannya yang diapit oleh akselerasi modernisasi Meiji dan gelombang militarisme agresif pada awal Era Showa membuat Taisho kerap dipandang sebagai jeda bernapas bagi bangsa Jepang.

Mengutip laporan dari Nippon.com, era Taisho ditandai oleh lahirnya pergerakan politik yang dikenal sebagai Demokrasi Taisho. 

Wafatnya kaisar lama dan pudarnya dominasi para oligarki senior bekas samurai memicu kebangkitan partai-partai politik sipil. Masyarakat mulai menyuarakan hak pilih universal, kebebasan berpendapat, hingga hak-hak buruh. 

Transisi politik dari sistem otoriter tertutup menuju pemerintahan parlementer yang lebih terbuka menjadi penanda penting bagaimana nilai-nilai pemikiran baru mulai mengakar di tanah Jepang.

Secara bersamaan, ledakan ekonomi akibat keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia Pertama membawa kemakmuran finansial mendadak bagi kelas menengah kota. Perubahan cepat ini menciptakan iklim sosial yang sangat dinamis. Hasilnya, tradisi lama bertabrakan langsung dengan tren modern tanpa henti.


 

Benturan Visual dan Budaya dalam Dunia Kimetsu no Yaiba

Pengaruh perubahan zaman pada era Taisho terlihat sangat gamblang dalam visual Kimetsu no Yaiba. Koyoharu Gotouge memanfaatkan transisi Taisho untuk menciptakan kontras yang tajam antara desa pegunungan yang masih memegang tradisi lama dan kota besar yang sudah tersentuh listrik.

Ketika cerita dimulai di pegunungan bersalju tempat keluarga Tanjiro tinggal, kehidupan berjalan layaknya di era Edo. Masyarakat memproduksi arang kayu, memakai pakaian tradisional, dan menggantungkan hidup pada ritme alam. 

Namun, ketika perjalanan membawa Tanjiro ke distrik Asakusa di Tokyo, pembaca isuguhi pemandangan yang bertolak belakang. Lampu-lampu listrik menerangi jalanan malam, bangunan-bangunan berarsitektur bata merah gaya Barat berdiri megah, dan trem listrik berjalan melintasi kerumunan warga.

Mengutip ulasan Japan Times, Era Taisho merupakan masa ketika modernitas benar-benar mulai menguasai kehidupan masyarakat luas di Jepang. 

Di kota-kota besar seperti Tokyo, muncul fenomena sosial berupa hadirnya mobo (modern boy) dan moga (modern girl). Para pemuda kota mulai meninggalkan kimono harian mereka. Kaum pria tampil dengan celana kombor, dasi longgar, dan kacamata berbingkai bulat mirip bintang film bisu Amerika. 

Sementara itu, kaum wanita memotong pendek rambut mereka, mengenakan gaun Barat, serta bekerja secara mandiri sebagai pelayan kafe atau staf kantor.

Di dalam Kimetsu no Yaiba, benturan budaya ini diwakili oleh penampilan para karakter utamanya. Tanjiro dan rekan-rekannya mengenakan seragam Korps Pemburu Iblis yang memadukan celana hakama tradisional dengan atasan berkeret ketat mirip seragam militer Barat, lalu dilapisi lagi oleh jubah haori bermotif khas. 

Karakter Muzan Kibutsuji bahkan secara sempurna merepresentasikan penyerapan budaya Barat di perkotaan dengan tampil klimis mengenakan setelan jas lengkap, dasi, dan topi fedora di tengah keramaian Asakusa.


Kenapa Iblis Harus Bersembunyi di Era Taisho?

Penempatan Kimetsu no Yaiba pada Era Taisho memberikan dasar narasi yang sangat kuat terkait keberadaan Korps Pemburu Iblis dan para iblis itu sendiri. 

Di era feodal seperti Sengoku atau Edo, cerita tentang monster dan siluman masih menjadi bagian dari kepercayaan umum masyarakat. Namun di Era Taisho, rasionalisme dan sains modern mulai menggeser mitos-mitos lama.

Seiring menyebarnya penerangan listrik dan jalur kereta api, ruang gerak iblis yang mengandalkan kegelapan malam menjadi semakin terbatas. Kereta api uap seperti yang muncul dalam Arc Mugen Train menggambarkan bagaimana simbol kemajuan teknologi dapat diinvasi oleh ancaman kuno. 

Mengutip catatan sejarah mengenai kemajuan transportasi Taisho, jaringan kereta api dan trem telah menjadi urat nadi utama yang menghubungkan pinggiran kota dengan pusat perekonomian. Kereta bukan lagi barang mewah, melainkan alat angkut massal yang saban hari dinaiki oleh ribuan warga.

Dalam konteks cerita, ketidakpercayaan masyarakat modern terhadap hal-hal mistis menjadi alasan utama mengapa Korps Pemburu Iblis tidak diakui secara resmi oleh pemerintah. 

Pemerintah Era Taisho yang sedang sibuk membangun citra negara modern yang rasional tidak akan menerima keberadaan organisasi bersenjata pedang yang memburu makhluk immortal pembawa maut. 

Pemburu iblis harus bergerak di balik bayang-bayang, menyembunyikan pedang mereka dari jangkauan polisi kota, dan bertarung dalam sunyi demi melindungi masyarakat yang bahkan tidak percaya bahwa iblis itu nyata.

Keberadaan Muzan yang bersembunyi di balik identitas pengusaha kaya di kota besar juga selaras dengan perkembangan ekonomi saat itu. Mengutip analisis historis Nippon.com, pertumbuhan industri dan munculnya kelompok kaya baru (narikin) di Era Taisho memudahkan seseorang dengan modal besar untuk membaur dan membeli pengaruh tanpa perlu mempedulikan asal-usul keluarga. 

Muzan memanfaatkan kemajuan kota, keramaian pasar, dan anonimitas masyarakat urban untuk menjalankan operasinya secara aman.


Jejak Romantisisme Era Taisho dan Tragedi yang Membayangi

Selain modernisasi yang pesat, Era Taisho sering kali dikenang dengan nuansa romantisisme yang sedikit melankolis. Keindahan era ini terasa rapuh karena posisinya yang berada diapit dua masa bergolak. Kemakmuran ekonomi yang dirasakan pada pertengahan 1910-an mulai goyah ketika krisis keuangan menghantam di awal 1920-an.

Bencana alam dahsyat seperti Gempa Bumi Hebat Kanto pada tahun 1923 makin mempertegas betapa rentannya kemajuan yang sedang dibangun. Gempa tersebut meratakan sebagian besar Tokyo dan Yokohama, menghancurkan bangunan-bangunan modern awal, dan memaksa kota tersebut dibangun ulang dari nol. 

Tak lama setelah era ini berakhir pada tahun 1926, Jepang terseret ke dalam krisis ekonomi global yang berujung pada kebangkitan rezim militer otoriter di Era Showa.

Atmosfer romantisme yang dibayangi oleh tragedi inilah yang mengalir kuat sepanjang kisah Kimetsu no Yaiba. Ada kehangatan dalam hubungan antarkarakter, keindahan seni tradisional, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Namun di saat yang sama, ada kesadaran mendalam bahwa masa-masa indah itu bisa hancur kapan saja oleh ancaman yang mengintai di balik kegelapan.

Melalui latar Era Taisho, Kimetsu no Yaiba berhasil menyajikan sebuah kisah yang tidak sekadar mengandalkan aksi pertarungan pedang. Pemilihan latar waktu ini memberikan kedalaman sejarah yang kaya. Pembaca diajak menyaksikan sebuah masa transisi tempat pedang samurai kuno bertabrakan dengan senapan dan rel kereta uap, tempat tradisi luhur berjuang mempertahankan diri di tengah gempuran arus modernisasi Barat. 


Berikut ini perbandingan karakteristik era Meiji, Taisho, dan Showa dalam sejarah Jeapng.

Sisi PerbandinganEra Meiji (1868 – 1912)Era Taisho (1912 – 1926)Era Showa Awal (1926 – 1940-an)
Fokus Utama NegaraPembongkaran sistem feodal, Restorasi Kekaisaran, dan modernisasi industri skala besar.Konsolidasi politik sipil, perluasan kebebasan budaya, dan pertumbuhan ekonomi perkotaan.Militerisasi nasional, ekspansi wilayah, dan keterlibatan penuh dalam Perang Dunia II.
Gaya Hidup dan BudayaMulai mengenal budaya Barat, namun pakaian dan tradisi feodal masih mendominasi harian.Awal mula budaya pop massal, munculnya mobo/moga, kafe modern, dan pemakaian listrik luas.Pengencangan ikat pinggang nasional, doktrinasi militer, dan pembatasan budaya Barat.
Pengaruh pada Kimetsu no YaibaMasa lalu Korps Pemburu Iblis dan pembentukan struktur awal organisasi di bawah bayang-bayang masa transisi samurai.Latar waktu utama cerita tempat tradisi lama bergeser oleh kereta uap, trem, dan lampu kota.Masa depan cerita yang membayangi, menandai berakhirnya ancaman kuno menjelang dunia yang makin rasional

Post a Comment

0 Comments