Siapakah Hajime Saito Samurai X & Apakah Benar Tokoh Nyata?

 



Dalam semesta serial manga Rurouni Kenshin karya Nobuhiro Watsuki atau yang lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai Samurai X, sosok Hajime Saito berdiri sebagai salah satu pilar cerita yang paling berkesan. 

Berperan sebagai mantan Kapten Divisi Ketiga Shinsengumi yang kemudian menjadi agen kepolisian rahasia era Meiji, karakter ini dikenal lewat tatapan matanya yang tajam, rokok yang tak pernah lepas dari bibirnya, serta teknik tebasan mematikan bernama gatotsu. 

Gaya bertarung Hajime Saito yang dingin, bengis, tanpa ampun, dan tanpa kompromi menjadikannya rival seimbang bagi sang tokoh utama, Himura Kenshin.

Kehadiran sosok Saito menghadirkan dinamika yang menarik dalam narasi peralihan zaman. Ketika sebagian besar mantan pendekar pedang kehilangan arah setelah runtuhnya era feodal, Saito melangkah di era baru dengan membawa prinsip hidup yang sangat kaku. 

Popularitasnya di kalangan penikmat anime dan manga kerap memicu pertanyaan besar bagi para penikmat sejarah: apakah Hajime Saito sekadar rekaan imajinasi sang komikus Nobuhiro Watsuki? Ataukah ia sosok nyata yang pernah menggoreskan jejak darah dalam lembaran sejarah Jepang?
 

Apakah Hajime Saito Tokoh Nyata dan Apa Peran Shinsengumi di Era Bakumatsu?

Apakah Hajime Saito adalah tokoh nyata? Jawabannya adalah ya, Hajime Saito merupakan tokoh sejarah nyata yang hidup pada periode transisi paling berdarah di Jepang. Lahir di Edo pada 18 Februari 1844, Saito tumbuh menjadi salah satu ahli pedang paling menakutkan pada akhir era kekaisaran feodal. 

Kehebatannya memainkan pedang membawanya bergabung dengan Shinsengumi, sebuah pasukan kepolisian khusus yang dibentuk oleh Keshogunan Tokugawa untuk menjaga ketertiban di Kyoto selama periode Bakumatsu.

Mengutip analisis Fengkai Liu, periode Bakumatsu yang berlangsung pada akhir era Edo ditandai oleh perpecahan sosial dan politik yang sangat hebat. Kedatangan kapal-kapal hitam dari Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19 mengguncang stabilitas kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang telah bertahan selama lebih dari dua abad. 

Situasi ini memicu pertentangan terbuka antara kelompok pendukung Keshogunan dan kelompok faksi pro-Kekaisaran dari domain Choshu dan Satsuma yang bertekad menggulingkan kekuasaan feodal.

Di tengah kekacauan tersebut, Shinsengumi memainkan peran krusial sebagai garda terdepan penjaga kekuasaan Keshogunan. Pasukan ini bertugas memburu para reformis radikal dan menjaga keamanan jalanan Kyoto yang rawan aksi pembunuhan politik. 

Sebagai Kapten Divisi Ketiga, Saito dikenal sebagai sosok yang sangat loyal pada tugasnya dan mahir dalam pertempuran jarak dekat. Salah satu momen paling bersejarah yang melibatkan Shinsengumi dan faksi Chosu, lantas diangkat dalam Rurouni Kenshin adalah Insiden Ikedaya (Ikedaya jiken).

 

 

Insiden kedaya & Perjumpaan Pertama Hajime Saito-Kenshin Himura

Di dalam alur cerita Rurouni Kenshin, Insiden Ikedaya memegang peranan penting sebagai titik balik hubungan antara faksi tempat Kenshin bernaung dan kelompok Shinsengumi. Peristiwa ini menjadi panggung sejarah yang mempertegas batas permusuhan antara Himura Kenshin dan Hajime Saito, meski keduanya tidak beradu pedang secara langsung pada malam penggerebekan tersebut.

Peristiwa di Ikedaya lahir dari persaingan politik yang makin meruncing antara faksi Keshogunan dan kelompok reformis Choshu. 

Dari sudut pandang Shinsengumi, penggerebekan dilakukan setelah interogasi terhadap aktivis Shunji Shuntaro membongkar dugaan konspirasi radikal untuk membakar Kyoto dan merobohkan dominasi Keshogunan. 

Namun, bagi faksi Choshu, berkumpulnya para aktivis di Penginapan Ikedaya pada 8 Juli 1864 merupakan rapat konsolidasi politik darurat. 

Pada pertengahan tahun 1864, posisi politik Choshu sedang berada di ujung tanduk setelah mereka diusir dari Kyoto oleh aliansi Keshogunan dan faksi Aizu pada peristiwa kudeta politik tahun sebelumnya (Kudeta 18 Agustus).

Faksi Chosu berupaya menyusun strategi untuk membebaskan rekan seperjuangan serta mengembalikan pengaruh politik di Istana Kekaisaran demi mengusir pengaruh asing.

Para pemuda Choshu berkumpul di Kyoto dengan cita-cita Sonnō Jōi (Muliakan Kaisar, Usir Pendatang Asing). Mereka merasa bahwa Keshogunan Tokugawa telah gagal melindungi kedaulatan tanah air dari cengkeraman bangsa Barat dan justru menyandera kebijakan Kekaisaran. 
 

Perbedaan sudut pandang antara Shinsengumi dan faksi Chosu ini bermuara pada pertumpahan darah di Ikedaya pada 

 

8 Juli 1864. Ketika itu, pasukan Shinsengumi yang dipimpin Isami Kondo, Okita Soji, dan Hajime Saito mendobrak masuk ke Ikedaya. Sebagai Kapten Divisi Ketiga, Saito bergerak di barisan depan mengeksekusi para anggota Choshu yang berada di dalam penginapan. 

Bagi Shinsengumi, aksi tersebut adalah tindakan pencegahan demi keamanan kota. Sebaliknya, bagi faksi Choshu, penyerbuan itu adalah pembantaian kejam terhadap para patriot yang berjuang demi masa depan Jepang.

Ketika peristiwa berdarah itu berlangsung, Himura Kenshin yang bertindak sebagai Hitokiri Battousai sedang berada di penginapan faksi Chosu. Kenshin terlambat tiba di lokasi dan hanya bisa menyaksikan puing-puing kehancuran serta gugurnya rekan-rekan seperjuangannya. 

Tragedi di Ikedaya memukul batin Kenshin secara mendalam dan makin menguatkan pandangannya bahwa Shinsengumi, terutama sosok dingin seperti Saito, merupakan ancaman besar bagi cita-cita perubahan zaman.

Meskipun Kenshin dan Saito tidak bertarung secara langsung di Ikedaya, tragedi malam itu menanamkan benih dendam dan persaingan yang sangat dalam. 

Bagi Saito, keberhasilan di Ikedaya membuktikan prinsip Aku Soku Zan dalam menumpas pihak yang dianggap mengganggu ketertiban. Bagi Kenshin dan faksi Choshu, insiden tersebut menjadi pemicu utama yang membakar kemarahan hingga meletuslah Pertempuran Gerbang Hamaguri atau Insiden Kinmon satu bulan kemudian. 

Rasa saling mengincar antara Battousai dan Kapten Divisi Ketiga Shinsengumi ini terus terbawa sepanjang era Bakumatsu, hingga akhirnya berujung pada duel mereka bertahun-tahun kemudian di era Meiji.


Apa Hajime Saito Berganti Nama Jadi Goro Fujita Seperti di Samurai X?

Dalam Rurouni Kenshin, Hajime Saito mengubah nama menjadi Goro Fujita. Pergantian nama ini bukan sekadar bumbu cerita yang diciptakan untuk keperluan manga tersebut. melainkan fakta sejarah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyatanya. 

Setelah Keshogunan Tokugawa kalah dalam Perang Boshin dan Restorasi Meiji resmi berdiri pada tahun 1868, kelas samurai dihapuskan secara hukum. Pemerintah Meiji mencabut hak-hak istimewa para pendekar pedang, termasuk larangan membawa katana di tempat umum, penghapusan nama keluarga khusus, serta hilangnya mata pencaharian utama mereka.

Banyak mantan anggota Shinsengumi yang tewas dalam pertempuran atau dieksekusi oleh pemerintah baru. Namun, Saito berhasil bertahan hidup dari kekacauan perang Boshin. 

Demi memulai kehidupan baru di tengah hembusan arus modernisasi dan menghindari pembalasan dendam dari faksi-faksi pemenang perang, Saito mengubah namanya menjadi Goro Fujita.

Mengutip penelitian Fengkai Liu, perubahan identitas ini menandai transformasi cara hidup Saito dari seorang komandan pasukan feodal menjadi bagian dari birokrasi pemerintahan modern. 

Di bawah identitas Goro Fujita, ia bergabung dengan Departemen Kepolisian Kekaisaran yang baru dibentuk oleh pemerintah Meiji. Langkah ini sangat menarik karena pemerintah Meiji yang baru membutuhkan keahlian tempur serta disiplin tinggi dari para mantan samurai untuk menjaga stabilitas negara yang belum sepenuhnya aman.

Meskipun bekerja untuk pemerintah yang dulunya merupakan musuh bebuyutannya dalam Perang Boshin, Saito tidak pernah menanggalkan filosofi bushido yang ia anut. 

Dalam seragam kepolisian Meiji, ia tetap menjalankan misi-misi berbahaya dan terlibat dalam pemadaman berbagai pemberontakan lokal, termasuk Pemberontakan Satsuma pada tahun 1877. 

Alih-alih membawa pedang gaya Barat yang mulai diwajibkan bagi aparat keamanan, Saito tetap memilih mengikat pedang tradisional Jepang (nihonto) di pinggangnya sebagai simbol kehormatan diri sebagai mantan samurai.

Penyajian karakter Saito dalam Samurai X sangat setia pada fakta sejarah ini. Di dalam cerita, ia ditampilkan mengenakan seragam kepolisian Meiji dan menggunakan nama Goro Fujita saat menjalankan tugas rahasia dari Kementerian Dalam Negeri. 

Interaksinya dengan tokoh-tokoh pemerintah Meiji mencerminkan posisi unik para mantan pendekar pedang yang harus beradaptasi dengan tatanan hukum baru tanpa kehilangan martabat masa lalunya. 

Dalam kehidupan nyata, Saito terus mengabdi di kepolisian hingga pensiun, sebelum bekerja sebagai penjaga museum dan universitas di Tokyo sampai ia menghembuskan napas terakhir pada tahun 1915 di usia 71 tahun.

Penempatan karakter Hajime Saito dalam panggung pop kultur memberikan gambaran betapa kompleksnya nasib para pendekar pedang di masa transisi. Lewat penggambaran yang akurat tentang perubahan identitasnya menjadi Goro Fujita serta dedikasinya pada prinsip Aku Soku Zan, sosoknya tetap dikenang sebagai lambang samurai sejati yang mampu bertahan melintasi gempuran perubahan zaman.

Post a Comment

0 Comments