Ruy Ramos, Pemain Naturalisasi Pertama Jepang yang Ada di Manga Shoot!

 

 

Dunia manga olahraga era 1990-an memiliki daya pikat tersendiri karena sering kali bersinggungan
langsung dengan realitas sejarah yang sedang terjadi. Dalam manga Shoot! karya Tsukasa Oshima, perjalanan Toshihiko Tanaka bersama tim SMA Kakegawa bergerak beriringan dengan meletusnya demam sepak bola di Jepang akibat lahirnya kompetisi profesional J.League. 

Di antara pahlawan lapangan hijau yang dipuja oleh generasi muda Jepang era 1990-an itu, nama Ruy Ramos berdiri sebagai figur ikonik. Sosoknya menghiasi dunia nyata sebagai dirigen permainan Samurai Blue.

Permainannya di lapangan untuk Verdy Kawasaki juga membuat banyak orang terkesima. Riy Ramos juga dimunculkan oleh Tsukasa Ooshima dalam Shoot! ketika akhirnya SMA Kakegawa bertemu dengan SMA Fujita Higashi di final kejuaraan Shizuoka.


Perjalanan Karier Ruy Ramos dari Brasil hingga Membela Timnas Jepang

Kiprah panjang Ruy Ramos di Negeri Sakura bermula jauh sebelum kompetisi profesional terbentuk. Lahir di Rio de Janeiro pada pertengahan bulan Maret tahun 1957, pemuda bernama lengkap Ruy Goncalo Ramos Sobrinho ini mengambil keputusan amat berani saat usianya menginjak dua puluh tahun. 

Pada tahun 1977, Ruy Ramos menerima tawaran untuk menyeberangi lautan menuju benua Asia demi bergabung dengan Yomiuri FC. Saat itu, wadah kompetisi domestik masih bernama Japan Soccer League. Sepak bola Jepang era tersebut masih berstatus amatir dengan fasilitas latihan yang jauh tertinggal dari Brasil.

Ramos datang membawa teknik individu khas Brasil yang seketika menyengat kompetisi lokal. Peranannya sebagai pengatur serangan di lini tengah Yomiuri FC memberikan dampak instan bagi klub milik perusahaan surat kabar Yomiuri Shimbun tersebut. 

Ruy Ramos memimpin Yomiuri FC menjadi penguasa mutlak kompetisi domestik Jepang. Selama berkompetisi di liga amatir, Ramos mempersembahkan lima gelar juara liga divisi utama. Kesuksesan ini terus berlanjut dengan raihan 3 trofi Piala Kaisar berturut-turut pada eranya. 

Dominasi Yomiuri FC bahkan menembus panggung benua saat mereka sukses menjuarai Kejuaraan Klub Asia pada tahun 1987. Kualitas umpan jarak jauhn Ruy Ramos sang sangat akurat selalu membuat barisan pertahanan lawan kewalahan.

Ketika otoritas sepak bola Jepang meresmikan J.League pada tahun 1993 sebagai tanda era profesional, Yomiuri FC berganti identitas menjadi Verdy Kawasaki. Ruy Ramos tetap menjadi kunci utama tim meski usianya sudah pertengahan tiga puluhan. Bersama deretan pemain bintang lokal seperti Kazuyoshi Miura, Verdy Kawasaki tampil beringas pada musim perdana bergulirnya liga level tertinggi tersebut.

Ramos menjadi konduktor serangan yang membawa Verdy Kawasaki sebagai kampiun pertama era profesional J.League. Setahun berselang, mereka kembali mempertahankan gelar juara berkat konsistensi permainan sang maestro. 

Penampilan Rui Ramos yang amat menonjol di atas rumput hijau membuat dia sulit dilupakan publik. Rambut keritingnya yang mengembang berpadu dengan janggut lebat menciptakan siluet khas bagi sang legenda bernomor punggung sepuluh.

 Setelah sempat menghabiskan satu musim bersama Kyoto Purple Sanga, Ramos kembali pulang ke Verdy Kawasaki untuk menutup lembaran kariernya sebagai pemain pada tahun 1998.
 

Ruy Ramos Sang Naturalisasi Pertama Timnas Jepang


Reputasi mentereng Ruy Ramos di level klub pada akhirnya mendorong terwujudnya sebuah peristiwa bersejarah bagi Timnas Jepang. Setelah menetap belasan tahun di Asia, Ramos mengambil langkah hukum yang belum pernah dilakukan oleh pesepak bola asing mana pun pada masa itu. 

Pada 1989, Ramos resmi melepas kewarganegaraan Brasil demi mendapatkan paspor Jepang. Keputusan ini menjadikannya pemain naturalisasi pertama dalam sejarah Samurai Blue. Sebuah tonggak baru tercipta karena sebelumnya skuad Jepang selalu diisi murni oleh talenta lokal yang lahir dan besar di sana.

Debut internasional Ruy Ramos terjadi pada gelaran Asian Games di Beijing tahun 1990. Di bawah arahan pelatih Hans Ooft, kehadiran Ramos membawa perubahan taktik yang sangat radikal. Timnas Jepang perlahan meninggalkan gaya permainan bertahan yang kaku. Mereka mulai berani menguasai bola lebih lama berkat visi sang jenderal lapangan tengah. 

Puncak prestasi internasional Ramos terukir dengan sangat manis saat Jepang bertindak sebagai tuan rumah Piala Asia 1992. Ketika itu, Ramos memimpin rekan-rekannya menembus partai final di kota Hiroshima. Skuad Samurai Blue sukses mengandaskan perlawanan Arab Saudi dengan skor tipis. Gelar juara tingkat benua untuk pertama kalinya ini mengangkat status Ramos sebagai legenda.

Kendati demikian, karier internasional Ramos juga diwarnai oleh kepedihan mendalam saat kualifikasi Piala Dunia 1994. Dalam laga pemungkas di Doha, impian Jepang menuju putaran final hancur lebur akibat gol balasan dari tim nasional Irak pada detik-detik akhir pertandingan. 

Pemandangan Ramos yang terduduk lesu di atas rumput tergurat kuat sebagai memori kelam yang dijuluki Tragedi Doha. Namun, air mata penderitaan tersebut sukses menanamkan mentalitas pantang menyerah bagi generasi penerus sepak bola Jepang di masa depan.

Seluruh fenomena sosial yang mengelilingi sosok Ruy Ramos ini terekam pula dalam semesta komik Shoot!. Tsukasa Oshima merangkai alur cerita fiktifnya dengan menyisipkan kehadiran Ruy Ramos ke stadion saat final kejuraan Shizuoka antara SMA Kakegawa vs SMA Fujita Higashi.

Ketika itu, Ramos mendekati Ryuji Kano, kapten kesebalasan Fujita Higashi sekaligus nomor 10. Ramos dengan bercanda menyebut apakah Kano yang akan direkrut oleh Verdy Kawasaki. Namun, ia juga menyatakan, andai Kano tidak datang, dan satu orang lagi juga tak bisa bergabung, maka Verdy Kawasaki harus memilik nomor 10 Kakegawa, Toshihiko Tanaka.

Shoot! sendiri memang kerap memunculkan tokoh-tokoh sepak bola di dunia nyata ke dalam komik tersebut. Di antaranya adalah hadirnya pelatih Timnas Jepang saat itu, Zico. Ada pula tokoh Hiro Ito yang terinspirasi dari gelandang Feyenoord, Shinji Ono.  Kehadiran para pahlawan dunia nyata ini menjadikan Shoot! sebagai komik yang merekam momen kebangkitan sepak bola Jepang dari era amatir menuju pentas dunia.



Post a Comment

0 Comments