Apakah Eren Benar atau Salah? Analisis Moral & Tragedi Kebebasan di AoT

 


Perdebatan mengenai validitas moral dari tindakan Eren Yeager dalam Attack on Titan bukan sekadar diskusi santai di kalangan penggemar anime, melainkan sebuah refleksi dari dilema etika paling kompleks dalam sejarah manusia.

Ketika Eren memutuskan untuk mengaktifkan Rumbling dan memusnahkan hampir delapan puluh persen populasi dunia, ia tidak hanya menghancurkan geografi fisik bumi, tetapi juga meruntuhkan tatanan moral konvensional.

Pertanyaan utamanya bukanlah apakah membunuh itu salah. Pasalnya, secara universal jawabannya adalah ya. Yang lebih penting, apakah tindakan tersebut dapat dibenarkan ketika alternatifnya adalah pemusnahan total terhadap bangsa sendiri. Untuk menjawab apakah Eren benar atau salah, kita harus membedah lapisan sosio-politik dan filosofi kebebasan yang menjadi landasan tindakannya.
 

Apakah Eren Benar atau Salah? Eksistensialisme Bangsa yang Terpojok


Memahami posisi moral Eren harus dimulai dari memahami dunia yang melahirkannya. Sejak awal cerita, Eren Yeager digambarkan sebagai produk dari lingkungan yang penuh dengan ketakutan dan penindasan. Hidup di dalam tembok bagi Eren bukan sekadar masalah keamanan, melainkan penghinaan terhadap hakikat manusia untuk merdeka. 

Namun, guncangan sesungguhnya terjadi ketika ia menyadari bahwa musuh yang selama ini ia lawan (Titan) sebenarnya adalah bangsanya sendiri, dan musuh yang sesungguhnya adalah dunia luar yang memandang Eldia sebagai "keturunan iblis".

Dunia dalam Attack on Titan tidak memberikan ruang bagi diplomasi yang tulus. Bangsa Marley dan negara-negara sekutunya telah menggunakan propaganda kebencian selama berabad-abad untuk menjadikan Eldia sebagai kambing hitam global. 

Dalam konteks ini, Eldia di Pulau Paradis menghadapi ancaman genosida yang nyata dan terorganisir. Jika Eren tidak melakukan apa pun, maka Pulau Paradis beserta seluruh penduduknya akan diratakan dengan tanah oleh kekuatan militer global. 

Di sinilah argumen "pertahanan diri" (self-defense) muncul. Secara moral, sebuah bangsa memiliki hak untuk mempertahankan eksistensinya, namun Eren membawa hak tersebut ke titik ekstrem yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

 

--Jika Anda tertarik untuk membaca rekomendasi artikel Larukupedia seputar AoT, klik di sini--

 

Mana yang Harus Dipilih? Antara Mayoritas Dunia dan Minoritas Pulau


Dalam studi etika, terdapat teori Utilitarianisme yang menyatakan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan atau keselamatan bagi jumlah orang terbanyak. Jika kita menggunakan kacamata ini, tindakan Eren jelas salah secara mutlak. 

Membunuh miliaran orang untuk menyelamatkan jutaan orang di satu pulau kecil adalah kegagalan logika matematika moral. Namun, Eren menolak logika ini. Bagi Eren, nilai kehidupan teman-temannya dan bangsanya tidak bisa ditukar dengan nyawa dunia yang membenci mereka.

Eren mengadopsi pandangan yang lebih dekat dengan egoisme kelompok yang radikal. Ia melihat bahwa dunia telah gagal memberikan keadilan bagi Eldia, sehingga ia merasa tidak lagi terikat pada kontrak sosial global. Baginya, moralitas dunia luar adalah kemunafikan; dunia berteriak tentang perdamaian sambil merencanakan genosida terhadap Paradis.

Dengan meluncurkan Rumbling, Eren sebenarnya sedang menjawab kekerasan dengan kekerasan dalam skala total. Ia menghancurkan sistem yang ia anggap tidak adil dengan cara menjadi monster yang paling ditakuti oleh sistem tersebut.

Salah satu poin paling krusial yang sering terlewat dalam diskusi moral ini adalah fakta bahwa Eren adalah tawanan dari garis waktu. Melalui kekuatan Attack Titan, Eren mampu melihat masa depan. Ia melihat dirinya melakukan Rumbling jauh sebelum ia benar-benar melakukannya. Hal ini memunculkan pertanyaan filosofis tentang kehendak bebas (free will). 

Jika Eren melihat bahwa Rumbling adalah satu-satunya masa depan yang memungkinkan keberadaan teman-temannya, apakah ia benar-benar memiliki pilihan untuk menolak?

Eren menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari jalan keluar lain. Ia mencoba diplomasi melalui bantuan Hizuru, ia mencoba mencari celah dalam rencana Zeke, namun semua pintu seolah tertutup. Pengetahuan akan masa depan ini menjadi beban psikologis yang menghancurkan empati Eren secara perlahan. Ia bertindak bukan karena ia menikmati pembantaian, tetapi karena ia merasa terjepit oleh takdir. 

Secara moral, apakah seseorang bisa disalahkan atas tindakan yang ia rasa "terpaksa" dilakukan demi menghindari hasil yang lebih buruk bagi orang-orang yang dicintainya? Di sinilah sisi tragis Eren muncul; ia adalah pelaku sekaligus korban dari skenario besar yang ia jalankan.
 

Strategi Pengorbanan Sang Iblis


Analisis mengenai kebenaran tindakan Eren juga harus mencakup tujuan akhirnya yang lebih dalam: penghapusan kekuatan Titan selamanya. Eren menyadari bahwa selama kekuatan Titan ada, siklus kebencian tidak akan pernah berakhir. Eldia akan selalu dipandang sebagai monster yang bisa berubah menjadi raksasa pemakan manusia. 

Oleh karena itu, Eren menciptakan sebuah skenario ketika ia menjadi musuh tunggal umat manusia: sosok iblis yang begitu mengerikan sehingga seluruh dunia (Marley dan Eldia) terpaksa bersatu untuk menghentikannya.

Dengan membiarkan dirinya dibunuh oleh Mikasa dan Armin, Eren sebenarnya sedang melakukan operasi pembersihan reputasi bagi bangsa Eldia. Ia ingin teman-temannya muncul sebagai penyelamat umat manusia yang tersisa.

 Dalam perspektif ini, Eren adalah seorang martir yang rela membuang kemanusiaannya dan membiarkan namanya dicatat sebagai penjahat paling kejam sepanjang masa demi menghapus kutukan Titan dari muka bumi. 

Jika hasil akhirnya adalah dunia yang bebas dari Titan dan teman-temannya bisa hidup panjang, Eren menganggap harga nyawa miliaran orang luar adalah harga yang layak dibayar. Namun, kembali lagi, apakah sebuah tujuan mulia bisa membenarkan cara yang begitu biadab?

 

Jika Anda tertarik membaca artikel lain dari Larukupedia seputar dunia anime, klik di sini

 

Suara yang Terbungkam oleh Langkah Titan


Untuk menyeimbangkan analisis, kita tidak boleh mengabaikan penderitaan warga sipil di luar pulau. Rumbling tidak memilih korbannya. Anak-anak di Marley, pengungsi yang tidak tahu apa-apa tentang konflik politik, hingga hewan dan ekosistem bumi, semuanya lenyap di bawah kaki Colossal Titan. Dari sudut pandang ini, Eren adalah perwujudan dari kegilaan absolut. Tidak ada pembenaran moral yang cukup kuat untuk melegitimasi pembunuhan massal terhadap warga sipil yang tidak berdaya.

Jika kita membenarkan Eren, kita secara tidak langsung membenarkan bahwa genosida adalah alat politik yang sah selama dilakukan untuk mempertahankan diri. Ini adalah preseden yang sangat berbahaya baik dalam fiksi maupun realitas. 

Banyak karakter seperti Reiner Braun atau Gabi Braun menunjukkan bahwa orang-orang di luar tembok juga adalah manusia yang memiliki keluarga, mimpi, dan ketakutan yang sama dengan penduduk Paradis. Dengan menghapus mereka, Eren tidak hanya membunuh musuh, ia membunuh kemanusiaan itu sendiri dalam upaya untuk menyelamatkan "segelintir" orang di pulaunya.
 

Kebenaran yang Terbelah dalam Kegelapan


Jadi, apakah Eren benar atau salah? Jawaban paling jujur adalah: Eren Yeager adalah penjahat yang memiliki alasan yang benar, namun mengambil tindakan yang salah secara universal. Ia benar dalam mengidentifikasi bahwa Pulau Paradis berada dalam ancaman pemunafikan global yang mematikan. Ia benar dalam usahanya memutuskan rantai takdir Titan yang telah menyiksa dunia selama dua ribu tahun. 

Namun, ia salah secara fundamental ketika ia memutuskan bahwa nyawa sebagian besar umat manusia tidak memiliki nilai dibandingkan dengan nyawa kelompoknya sendiri.

 Attack on Titan tidak pernah dirancang untuk menjadi cerita tentang pahlawan melawan penjahat. Ini adalah cerita tentang bagaimana kebencian yang dipelihara selama berabad-abad dapat mengubah seorang anak kecil yang hanya merindukan kebebasan menjadi monster paling mengerikan yang pernah ada.

 Eren adalah refleksi dari kegagalan komunikasi manusia. Kehadirannya adalah peringatan bahwa ketika keadilan tidak lagi bisa ditemukan melalui kata-kata, manusia cenderung mencari "keadilan" melalui kehancuran total. Pada akhirnya, Eren bukan sosok yang harus dicontoh, tetapi ia adalah sosok yang harus dipahami sebagai pengingat akan gelapnya hati manusia saat terpojok oleh dunia yang rusak.

Post a Comment

0 Comments