Dalam One Piece Live Action, karakter Nami yang diperankan oleh Emily Rudd, dicitrakan sebagai karakter pintar, independen, pemberani, dengan outfit yang disesuaikan untuk konsumsi global. Ini jauh berbeda dengan manganya, terutama setelah time skip, ketika Nami kerap memakai atasan yang mengekspos lekuk tubuhnya.
Namun, kejutan muncul di episode 3 One Piece Live Action Season 2. yang berjudul "Whisky Business". Meski hanya dalam hitungan detik (yaitu dari rentang menit 2 detik 36 hingga menit 3 detik 35) Nami hanya mengenakan bikini warna merah. Apakah itu penting untuk plot cerita? Ataukah ini adalah upaya agar live action ini setia dengan karya Eiichiro Oda?
| Aspek | Penjelasan |
| Pemicu Debat | Adegan Nami hanya mengenakan bra merah di Episode 3 "Whisky Business". |
| Landasan Visual | Upaya Emily Rudd menjaga akurasi desain karakter sesuai manga/anime. |
| Logika Cerita | Menggambarkan ekstremnya perubahan cuaca Grand Line secara instan. |
| Dilema Adaptasi | Benturan antara loyalitas pada sumber asli vs. risiko objektifikasi (male gaze). |
| Sudut Pandang | Nami tetap dicitrakan pintar dan independen, terlepas dari pilihan pakaiannya. |
Adaptasi live action sebuah manga sering kali menjadi medan tempur antara "logika dunia nyata" dengan "loyalitas terhadap sumber adaptasi". Tidak terkecuali dengan One Piece, yang dalam manganya penuh dengan outfit menampilkan kulit karakter perempuan secara berlebihan, entah itu Nami, Nico Robin, Boa Hancock, atau karakter yang lebih minor seperti Rebecca di Dressrosa.
Pada musim pertamanya, One Piece Live Action tampak aman dari serangan objektivikasi karena Nami memang cenderung punya outfit "biasa-biasa saja" dalam Arc Romance Dawn. Namun, seiring adaptasi yang makin melaju ke arc-arc berikutnya, timbul pertanyaan.
Outfit Nami yang lebih banyak memperlihatkan "kulit" ini, apakah ini bentuk loyalitas pada sumber asli agar seperti gambaran Oda di manga, ataukah sebuah langkah mundur yang mengarah pada objektivikasi?
Anda bisa membaca urutan Arc One Piece versi manga dan anime di tautan berikut ini.
One Piece Live Action & Komitmen Emily Rudd Soal Outfit Nami
Salah satu postingan yang cukup menarik perhatian sejak dirilisnya One Piece Live Action Season 2 adalah post dari akun Instagram @geekanatomy0204 yang menyebut, "Dengan hadirnya musim kedua serial live-action One Piece, Emily Rudd sekali lagi menunjukkan mengapa banyak penggemar percaya bahwa penggambaran Nami olehnya dengan sempurna menangkap esensi karakter tersebut."
"Mulai dari sikapnya yang teguh hingga kehadirannya di layar, aktris ini berhasil menerjemahkan sebagian besar karisma dan kepribadian yang telah mendefinisikan navigator Topi Jerami di anime ke versi live-action," tambah akun tersebut.
Dalam gambar yang diunggah, @geekanatomy0204 membandingkan outfit Nami yang hanya memakai bikini merah di anime, dengan Nami live action. Versi live action sebenarnya sudah kompromistis karena Nami tetap mengenakan rok pendek.
Terkait hal ini, dalam, wawancara eksklusif di Business Insider pada September 2023, terungkap bahwa Emily Rudd bukan sekadar aktor yang menerima kostum jadi. Ia adalah motor penggerak di balik akurasi visual Nami sejak awal.
Contohnya, Rudd bersikeras tetap mengenakan rok mini ikonik Nami dari arc Reverse Mountain meskipun proses syuting dilakukan di tengah cuaca dingin yang menusuk. Desainer kostum Kerry Anne Barnard mengakui bahwa Rudd sering kali "bertarung" demi detail-detail kecil agar Nami tidak kehilangan esensi visualnya dari manga.
"Saya tumbuh bersama (manga One Piece) ini. Ini sudah ada dalam darah saya. Saya ingin memastikan bahwa kami melakukannya dengan benar untuk para penggemar karena saya adalah bagian dari penggemar pula," kata Rudd.
Namun, apakah adegan bikini merah Nami di OPLA tersebut tidak akan dianggap sebagai upaya terselubung male gaze? Male gaze dapat bekerja melalui tiga tingkatan tatapan, yaitu tatapan kamera (kamera berhenti lama pada bagian tubuh tertentu saat terjadi ekspresi wajah atau aksi karakter), tatapan karakter laki-laki (bagaimana karakter laki-laki di dalam cerita memandang karakter perempuan tersebut), dan tatapan penonton (penonton diajak untuk ikut memandang karakter perempuan tersebut dengan cara yang sama seperti kamera).
Adegan Nami di Episode 3 ini memicu pertanyaan: apakah ketika elemen pakaian minim dari manga dibawa ke live action, ia tetap menjadi "loyalitas pada karya asli" ataukah ia bertransformasi menjadi teknik pengambilan gambar yang membuat sang aktor jadi objek male gaze?
Antara Logika Lingkungan vs. Estetika Visual
Adegan Nami dimulai dari langit yang cerah, lalu tiba-tiba hujan. Nami masuk ke kabin, sembari berkata, "cuacanya gila banget. Tadi, padahal cerah-cerah saja, tiba-tiba hujan lebat."
Nami ketika itu cuma memakai bikini merah dengan rok mini, dan menggaet baju agar tidak basah kuyup. Ia melintas di depan Zoro, Sanji, dan Usopp.
Sesaat kemudian, dengan cuaca Grand Line yang tidak menentu, yang terjadi justru hujan salju yang menumpahi Going Merry. Nami kembali masuk ke kabin dengan outfit merahnya, sembari berkata, "Hujannya berhenti, tetapi sekarang badai salju".
Adegan Nami berganti pakaian di tengah cuaca Grand Line yang tak menentu sebenarnya berfungsi sebagai pembentuk dunia (world-building) secara visual. Ini menunjukkan betapa ekstrem dan absurdnya iklim di laut tersebut—hujan tropis bisa berubah menjadi badai salju dalam hitungan menit. Namun, jika dilihat dari sudut pandang pragmatis, pilihan Nami untuk hanya mengenakan bra merah memicu perdebatan mengenai konsistensi karakter.
Sebagai navigator yang cerdas dan penuh perhitungan, Nami biasanya mengutamakan efisiensi. Secara ilmiah, paparan sinar matahari laut secara langsung tanpa pelindung kain justru mempercepat luka bakar matahari (sunburn) dan dehidrasi.
Di sinilah letak anomalinya: apakah kondisi "kepanasan" di laut cukup logis jika hanya diselesaikan dengan mengenakan pakaian seminim itu? Ataukah ini merupakan momen saat logika dunia nyata sengaja dikalahkan demi menghadirkan "panel ikonik" dari manga?
Perdebatan ini membiarkan audiens menimbang sendiri hal yang lebih krusial dalam sebuah adaptasi: akurasi visual total atau konsistensi logika dunia yang telah dibangun sejak musim pertama.
Polarisasi Penggemar: Antara Purist dan Kritikus
Dinamika opini di berbagai platform, termasuk diskusi hangat di komunitas penggemar, memperlihatkan terbelahnya sudut pandang audiens dalam menanggapi adegan "Whisky Business" ini:
Dari perspektif Loyalitas (Purist), Kelompok ini menyambut baik adegan tersebut sebagai sinyal bahwa Netflix tidak berniat membatasi visi asli Eiichiro Oda.
Mereka memandang bikini merah bukan sebagai objektifikasi, melainkan simbol keberanian Nami yang sesuai dengan materi sumber. Jika Emily Rudd sendiri berjuang demi detail kostum tersebut, maka hal itu dianggap sebagai bentuk apresiasi tertinggi terhadap karya aslinya.
Sementara itu, dari perspektif Kritikal, pendapat justru sebaliknya. Sebagian penonton merasa transisi ini terasa mendadak. Ada kekhawatiran bahwa penonjolan fisik yang tiba-tiba dapat mengaburkan wibawa Nami sebagai sosok intelektual yang dibangun dengan sangat apik pada musim pertama.
Mereka berargumen bahwa kekuatan Nami terletak pada kecerdasannya, dan elemen fan service yang terlalu literal berisiko mendistorsi kedalaman karakter bagi penonton awam.
Sebagai konten konsumsi global, One Piece Live Action berada di posisi sulit. Di satu sisi, ada ekspektasi modern mengenai kekuatan kehendak (agency) karakter perempuan. Di sisi lain, ada tuntutan untuk tetap setia pada estetika Oda yang semakin berani seiring berjalannya cerita.
Adegan di Episode 3 ini seolah menjadi upaya produksi untuk merangkul dua kepentingan: tetap terlihat progresif dengan mempertahankan sifat independen Nami, sekaligus memberikan penghormatan bagi pembaca manga lama.
Tantangan besarnya adalah memastikan kamera tidak terjebak dalam teknik male gaze—saat tubuh aktor dijadikan objek tatapan yang pasif—melainkan tetap menempatkan Nami sebagai subjek yang memegang kendali penuh atas situasi, terlepas dari apa pun yang ia kenakan.
Nami tetaplah jantung dari kru Topi Jerami. Kekuatannya bukan terletak pada pakaian yang ia kenakan, melainkan pada kemampuannya memetakan laut yang tak terpetakan. Dedikasi Emily Rudd dalam menjaga akurasi visual adalah bukti cintanya sebagai penggemar, namun esensi Nami yang sesungguhnya adalah keberaniannya menantang dunia demi kebebasan.
Pilihan untuk menikmati adegan tersebut sebagai bentuk penghormatan karya asli atau mengkritiknya sebagai objektifikasi visual, kembali pada perspektif masing-masing penonton. Satu hal yang pasti: Nami tidak membutuhkan validasi lewat pakaian untuk membuktikan bahwa ia adalah navigator terbaik di Grand Line; ia membuktikannya melalui setiap keputusan taktis yang menyelamatkan nyawa rekan-rekannya di tengah badai.


0 Comments
Silakan berdiskusi dengan sopan. Komentar akan muncul setelah dimoderasi