Siapa penyanyi solo Jepang, Noriyuki Makihara yang viral di Indonesia sejak Desember 2025? Jika kita mengunjungi video musik lagunya yang berjudul "Mou Koi Nante Shinai", komentar di MV tersebut dipenuhi oleh netizen Indonesia yang mengaku "kayak kenal" dengan wajah Makihara yang sekilas mengingatkan pada presiden ke-7, Jokowi (Joko Widodo).
Algoritma Youtube kadang menghasilkan fenomena unik yang sulit dibayangkan akal sehat. Pada 2018, fenomena city pop mengglobal dengan kemunculan lagu "Plastic Love" milik Mariya Takeuchi. Padahal, lagu tersebut lahir 3 dasawarsa lalu. Tapi, jadi hits dunia berkat kerja Youtube yang ajaib.
Kini, pada akhir 2025 dan menyambung hingga awal 2026, algoritma YouTube dan TikTok Indonesia secara kolektif "menemukan" kembali sosok penyanyi pria asal Jepang yang tampil ikonik dengan kacamata dan senyum khasnya dalam video klip bernuansa awal 90-an. Sosok tersebut adalah Noriyuki Makihara.
Bagi generasi Z dan Alpha di Indonesia, ia mungkin terlihat seperti "penemuan baru" atau bahkan bahan meme karena kemiripan visualnya dengan Jokowi. Namun, di negeri asalnya, Makihara adalah legenda musik. Ia adalah raksasa J-Pop yang telah membentuk lanskap musik Jepang selama lebih dari tiga dekade. Mengapa ia viral? Siapa sebenarnya dia di balik layar industri musik Jepang?
Data Singkat Noriyuki Makihara:
Tempat, Tanggal Lahir: Osaka, 18 Mei 1969.
Pendidikan: Sastra Inggris, Universitas Aoyama Gakuin.
Pencapaian Terbesar: Penulis lagu "Sekai ni Hitotsu Dake no Hana" (3 juta+ kopi).
Total Penjualan: >21 Juta keping.
Lagu Wajib Dengar: "Donna Toki mo.", "Mou Koi Nante Shinai", "Tooku Tooku", dan "Hungry Spider".
Profil Noriyuki Makihara Penyanyi Solo yang Viral di Indo
Noriyuki Makihara lahir pada 18 Mei 1969 di Takatsuki, Prefektur Osaka. Sejak kecil, kecintaannya pada musik sudah terlihat melampaui teman-sebayanya. Makihara tumbuh di lingkungan yang menghargai seni, yang membawanya mulai bereksperimen dengan alat musik elektronik dan penyusunan lagu sejak masa remaja.
Kejeniusan Makihara pertama kali terekam oleh radar industri ketika ia masih duduk di bangku SMA. Pada tahun 1985, ia mengirimkan demo lagu ke acara radio "Sound Street" yang dipandu oleh musisi legendaris dunia, Ryuichi Sakamoto (anggota Yellow Magic Orchestra). Sakamoto, yang dikenal sangat kritis, memberikan pujian tinggi pada demo tersebut. Pengakuan dari seorang maestro sekaliber Sakamoto menjadi validasi awal bahwa Makihara memiliki bakat yang tidak lazim.
Meskipun punya bakat musik yang besar, Noriyuki Makihara tetap mementingkan pendidikan dengan mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Aoyama Gakuin. Pilihan jurusan ini sangat memengaruhi gaya penulisan liriknya di kemudian hari.
Lirik Makihara dikenal karena narasinya yang sangat mendetail, penggunaan metafora yang cerdas, dan kemampuannya mengekspresikan emosi kompleks melalui kata-kata sederhana yang bisa dipahami semua orang. Hal inilah yang mendasari julukan "King of Melody" sekaligus penulis lirik yang paling mumpuni di generasinya.
Noriyuki Makihara secara resmi memulai debutnya pada 25 Oktober 1990 dengan single "NG" di bawah label Warner Music Japan. Namun, ledakan sesungguhnya terjadi setahun kemudian.
Pada tahun 1991, Makihara merilis "Donna Toki mo" (Kapan Pun Itu). Lagu ini terjual lebih dari 1,6 juta kopi dan menjadi lagu tema kampanye iklan besar serta lagu wajib di berbagai acara televisi. Melodinya ceria, dengan dipadu lirik yang penuh semangat pantang menyerah. "Donna Toki mo" memberikan warna baru pada J-Pop yang saat itu sedang bertransformasi.
Setahun kemudian, pada 1992, Makihara merilis "Mou Koi Nante Shinai" (Ku Takkan Pernah Jatuh Cinta Lagi). Lagu inilah yang kelak menjadi pintu masuk utama bagi pendengar di Indonesia pada tahun 2025-2026.
Berdasarkan data penjualan Oricon, "Mou Koi Nante Shinai" mencapai posisi puncak dan tetap menjadi salah satu lagu patah hati paling ikonik di Jepang hingga saat ini. Keunikan lagu ini adalah kontras antara musiknya yang terdengar riang dengan lirik yang menceritakan detail-detail kecil kesedihan setelah ditinggal pasangan, seperti kebingungan saat hendak membuat teh atau rasa hampa saat melihat sikat gigi yang tersisa satu.
Kontribusi terbesar Makihara bagi sejarah musik Jepang mungkin bukan lagunya sendiri, melainkan lagu yang ia tulis untuk grup idol SMAP berjudul "Sekai ni Hitotsu Dake no Hana" (Bunga Satu-satunya di Dunia) pada tahun 2003. Lagu ini mengajak orang untuk berhenti bersaing menjadi "nomor satu" dan fokus menjadi "satu-satunya" dengan keunikan masing-masing. Single "Sekai ni Hitotsu Dake no Hana" terjual lebih dari 3,1 juta kopi fisik, menjadikannya salah satu single terlaris sepanjang masa di Jepang.
Jika tertarik dengan terjemahan lagu JPop dalam bahasa Indonesia, termasuk lagu Utada Hikaru, Fujji Kaze, dan Aimer, klik di sini.
Kenapa Musik Penyanyi Solo Noriyuki Makihara Enak Didengar?
Menurut ulasan dari Neowing berjudul "Essentials of Noriyuki Makihara", daya tarik utama Makihara terletak pada kemampuannya melakukan "self-production" secara total. Ia jarang sekali menggunakan komposer luar. Ia adalah penyanyi, penulis lagu, dan pengatur aransemen sekaligus.
Musik Makihara di awal 90-an banyak dipengaruhi oleh synth-pop dan soft rock dengan sentuhan piano yang dominan. Karakter vokalnya yang jernih, stabil, dan memiliki vibrato yang halus memberikan efek menenangkan bagi pendengarnya. Di tengah tren musik modern yang penuh dengan autotune dan dentuman bass berat, musik "organik" Makihara dari era 90-an memberikan oase bagi telinga pendengar Indonesia yang sedang mengalami kejenuhan digital.
Lirik Makihara sering disebut sebagai "novel pendek". Ia tidak hanya mengatakan "aku sedih", tapi ia menceritakan bagaimana ia melihat bayangan kekasihnya di kaca jendela atau bagaimana aroma parfum yang tertinggal di bantal membuatnya terdiam. Bagi netizen Indonesia, meskipun banyak yang tidak mengerti bahasa Jepang secara langsung, nuansa emosional dari vokal Makihara mampu menembus hambatan bahasa.
Kenapa Noriyuki Makihara Viral di Indonesia? Meme atau Apresiasi Seni?
Mengapa lagu "Mou Koi Nante Shinai" baru viral di Indonesia sekarang-sekarang ini? Kenapa tidak 2 dasawarsa lalu saat lagu tersebut jadi hits di negara asalnya? Mengapa di Indonesia? Ada beberapa faktor kunci yang membuat nama Noriyuki Makihara meledak di tanah air.
Pertama, faktor "look-alike" dan media sosial. Media sosial Indonesia dikenal memiliki selera humor yang spesifik. Potongan video klip Makihara dari tahun 1992 yang menampilkan dirinya mengenakan kacamata frame bulat dan kemeja rapi sering disandingkan dengan foto masa muda mantan Presiden Joko Widodo. Kemiripan ini memicu rasa penasaran yang masif. Netizen yang awalnya hanya ingin melihat "kembaran" tokoh nasional, akhirnya justru terpikat oleh kualitas lagunya.
Kedua, kebangkitan City Pop di Asia Tenggara. Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar untuk musik City Pop Jepang (seperti lagu "Plastic Love"). Meskipun Makihara lebih condong ke arah J-Pop murni, estetika visual dan audionya dari awal 90-an memiliki DNA yang sama dengan City Pop yang sedang digandrungi anak muda di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Musiknya dianggap "aesthetic" dan cocok menjadi latar musik konten media sosial yang bertema nostalgia atau keseharian.
Ketiga, kekuatan algoritma YouTube. Banyak netizen berkomentar di YouTube Warner Music Japan bahwa mereka "tersesat" di kanal tersebut karena rekomendasi otomatis. Algoritma YouTube cenderung menyarankan video klip dengan high-engagement dari wilayah geografis yang sama. Begitu video Makihara mulai ditonton oleh segelintir orang Indonesia, sistem secara otomatis menyebarkannya ke jutaan pengguna lain di Indonesia, menciptakan bola salju popularitas yang tak terbendung.
Noriyuki Makihara adalah fenomena unik ketika bakat luar biasa bertemu dengan keberuntungan era digital. Viral di Indonesia mungkin dimulai dari sebuah ketidaksengajaan atau kemiripan visual. Namun bertahannya lagu-lagu seperti "Mou Koi Nante Shinai" di tangga lagu populer saat ini adalah bukti nyata dari kualitas musik Makihara yang absolut.
Tabel Diskografi Noriyuki Makihara untuk Pendengar Baru
| Tahun | Judul Lagu | Catatan Penting |
| 1991 | Donna Toki mo. | Single jutaan kopi pertama; lagu penyemangat nasional. |
| 1992 | Mou Koi Nante Shinai | Lagu yang viral di Indonesia; tema patah hati. |
| 1992 | Tooku Tooku | Lagu tentang merantau dan rindu kampung halaman. |
| 1994 | SPY | Eksperimen musik dengan lirik tentang kecurigaan pada pasangan. |
| 1999 | Hungry Spider | Lagu dengan aransemen gelap dan unik yang sangat populer. |
| 2003 | Sekai ni Hitotsu Dake no Hana | Versi self-cover dari lagu yang ia tulis untuk SMAP. |
Jika Anda tertarik membaca artikel lain dari Larukupedia seputar dunia anime, klik di sini.

0 Comments
Silakan berdiskusi dengan sopan. Komentar akan muncul setelah dimoderasi