Pada 22 Juni 2005, L'Arc~en~Ciel, merilis album studio ke-10 mereka yang diberi judul AWAKE. Album ini berjarak sekitar satu tahun tiga bulan setelah dirilisnya album SMILE pada Maret 2004.
Dari segi lirik, AWAKE menjadi salah satu karya paling monumental, kompleks, dan berani sepanjang perjalanan karier musik Laruku. Di balik balutan musik alternative rock, pop punk, hingga sentuhan industrial yang energetik, AWAKE menyuguhkan pesan mendalam mengenai soal cinta tanpa syarat (unconditional love) serta keprihatinan sosial atas dampak Perang Irak yang kala itu sedang bergejolak.
Terobosan dalam AWAKE ini unik dalam sejarah L'Arc~en~Ciel. Sebagai band yang selama belasan tahun sebelumnya begitu identik dengan lirik puitis dan dunia fantasi yang abstrak, Laruku melahirkan album yang sarat akan kritik sosial nan llugas, di samping penolakan terhadap militerisme, serta seruan perdamaian yang tegas.
Album AWAKE menjadi titik krusial ketika kedewasaan bermusik dan kesadaran kemanusiaan para personel L'Arc~en~Ciel menyatu secara utuh.
Latar Belakang Album AWAKE
Proses penciptaan album Awake dimulai tidak lama setelah L'Arc~en~Ciel menyelesaikan rangkaian tur domestik SMILE TOUR 2004 serta penampilan bersejarah mereka di hadapan belasan ribu penggemar Amerika Serikat dalam konser Live in USA di First Mariner Arena, Baltimore, pada 31 Juli 2004.
Pengalaman tampil di ranah internasional dan respons hangat dari publik global memberikan energi baru bagi para personel sekembalinya mereka ke Jepang. Hyde, tetsuya, ken, dan yukihiro segera memanfaatkan jeda waktu untuk mengisolasi diri dan fokus menulis lagu-lagu baru.
Gitaris ken mengenang periode tersebut sebagai momen ketika ia mengalami dorongan kreatif yang kuat untuk berinteraksi dengan instrumennya. Ia berada dalam mode eksperimental: ingin memetik gitar secara intensif dan menciptakan lagu-lagu berenergi tinggi yang terdengar mantap ketika diputar dalam volume maksimal. Inilah yang kemudian memicu lahirnya komposisi-komposisi gitar yang lebih agresif sekaligus melodius di sepanjang album AWAKE.
AWAKE memecahkan rekor internal Laruku ebagai album studio dengan jumlah lagu terbanyak dan durasi terpanjang pada masa itu. Sejak album debut hingga SMILE, L'Arc~em~Ciel selalu membatasi jumlah trek pada angka 10 (dari Tierra, Heavenly, Tue, Heart) atau maksimal 11 (di album ARK dan RAY). Ini dilakukan demi menjaga rentang perhatian pendengar. Namun, sejak AWAKE, abnd ini memasukkan 12 lagu.
Bassist sekaligus pimpinan band, tetsuya, mengungkapkan bahwa keputusan 12 tracks tersebut diambil karena seluruh materi yang terkumpul memiliki kualitas yang sangat solid dan mampu menjaga alur emosi pendengar dari awal hingga akhir tanpa terasa membosankan.
Sang vokalis, hyde, merespons perubahan ini dengan nada berseloroh. Ia menyatakan bahwa sebagai musisi yang tumbuh di era piringan hitam atau vinil yang terbiasa dengan norma 10 lagu per album, penambahan jumlah trek dalam AWAKE menjadi penanda bahwa L'Arc~en~Ciel beradaptasi pada fleksibilitas kapasitas teknologi CD modern.
Tema Perang di AWAKE dan Pengalaman Spiritual hyde
Jika ditelusuri dari garis waktu produksinya, pengerjaan album AWAKE berlangsung sejak September 2004 hingga April 2005. Periode ini berjarak sekitar satu setengah tahun setelah koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat melancarkan invasi militer ke Irak pada Maret 2003.
Peristiwa invasi tersebut, yang diwarnai oleh gempuran propaganda media massa dan jatuhnya ribuan korban jiwa dari kalangan sipil, memberikan guncangan emosional serta dampak psikologis yang amat mendalam bagi hyde.
Di tengah situasi dunia yang kacau dan penuh etegangan geopolitik, hyde mengalami sebuah titik balik spiritual pribadi. Ketika diwawancarai oleh jurnalis musik senior Atsushi Kano mengenai alasannya mengangkat tema cinta dan perdamaian secara eksplisit ke dalam WAKE, hyde mengungkapkan bahwa ia telah sampai pada satu tingkat kesadaran baru tentang keberadaan cinta tanpa syarat.
Hyde menyadari bahwa setelah memahami hakikat cinta yang murni dan tulus tersebut, menulis atau menyanyikan lirik dengan topik-topik kasual yang biasa ia buat di masa lalu mendadak terasa membosankan dan tidak jujur. Ia merasa bahwa lirik rekaan yang abstrak tidak lagi mampu menampung keprihatinan terhadap tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di depan mata.
Kendati demikian, dalam meramu lirik-lirik bertema antiperang ini, hyde tidak pernah memosisikan diri sebagai sesosok juru selamat, pengkhotbah, atau pihak yang merasa paling suci. Sebaliknya, Hyde menunjukkan kerendahan hati dengan mengakui kesadaran pahit bahwa dirinya pun merupakan bagian sisi gelap manusia. Hyde menulis lirik-lirik tersebut sambil menyadari bahwa di dalam dirinya sendiri terdapat potensi menjadi bagian dari iblis alias sisi gelap tersebut.
Menurut pandangan hyde, dunia tidak runtuh hanya karena tindakan satu figur jahat yang besar, melainkan karena berkumpulnya bagian-bagian iblis kecil yang bersumber dari ego, kepatuhan buta, amarah, dan ketakutan dalam diri setiap manusia biasa.
Ketika bagian-bagian iblis kecil yang berada dalam diri ribuan atau jutaan orang tersebut bersatu di dalam satu kelompok atau doktrin massa, keberadaannya akan bermutasi menjadi sesosok iblis raksasa yang sangat destruktif dan sanggup menghancurkan peradaban melalui peperangan.
Pandangan filosofis inilah yang kemudian dituangkan secara tajam ke dalam lagu-lagu beranomali gelap seperti "AS ONE" dan "EXISTENCE". Lagu-lagu tersebut menggambarkan bagaimana histeria massal dan kepatuhan tanpa kritis dapat menyulut api kehancuran.
Pesan tematik mengenai kritik perang dan keprihatinan atas nasib manusia tersebar secara kuat di beberapa lagu tulang punggung album AWAKE.
Lagu "TRUST", yang diciptakan oleh tetsuya, dibuka dengan nuansa musik elektronik yang tenang sebelum berkembang perlahan menjadi susunan tempo rock yang kokoh lewat ketukan drum buatan yukihiro.
Lirik lagu ini ditulis oleh hyde dari sudut pandang yang sangat tidak biasa, yakni dari persepsi seorang janin atau bayi yang masih berada di dalam rahim ibunya. Dari balik kehangatan air ketuban, sang janin mempertanyakan kondisi dunia luar yang bakal menjadi tempatnya terlahir. Ia bertanya apakah di luar sana masih tersisa kedamaian, apakah ia bisa tidur dengan tenang dalam pelukan kebahagiaan, dan apakah api peperangan yang membakar bumi sudah benar-benar padam.
Hyde memasukkan ironi yang sangat tajam dalam lagu ini, di mana meskipun dunia saat ini penuh kepedihan, ada secercah kepasrahan dan harapan agar generasi masa depan yang terlahir dapat menemukan peradaban yang lebih baik.
Lagu berikutnya adalah "LOST HEAVEN" yang diciptakan oleh ken. Lagu bergenre funky-gothic rock dengan pengaruh dinamika bass yang terinspirasi dari Red Hot Chili Peppers ini terpilih sebagai lagu penutup untuk film layar lebar anime Fullmetal Alchemist the Movie: Conqueror of Shamballa.
Dalam merumuskan liriknya, hyde melakukan diskusi mendalam bersama sutradara Seiji Mizushima untuk menyelaraskan pesan moral cerita dengan kondisi dunia nyata. Pesan utama yang diusung dalam "LOST HEAVEN" menekankan bahwa konsep tentang surga atau kedamaian bersifat sangat personal dan berbeda bagi setiap individu maupun bangsa.
Konflik bersenjata dan tragedi perang hampir selalu dipicu oleh sikap satu kelompok kuat yang memaksakan standar "surga" atau ideologi mereka kepada kelompok lain yang lebih lemah.
Sementara itu, puncak emosional dan klimaks dari seluruh narasi antiperang dalam album ini terdapat pada lagu "Hoshizora" (Langit Bergemintang). Diciptakan oleh hyde, lagu ini hadir sebagai sebuah balada rock megah yang meratapi pemandangan tragis ketika seorang bocah menyaksikan kehancuran tempat tinggalnya akibat gempuran perang di bawah langit malam yang sunyi dan bertabur bintang.
Liriknya menyerukan pertanyaan puitis namun menusuk mengenai alasan mengapa manusia harus saling membunuh, saling membenci, dan merenggut nyawa orang-orang tersayang hanya demi mempertahankan garis batas, doktrin politik, atau dogma yang diciptakan oleh para penguasa.
Tidak hanya dari sudut pandang lirik dan gagasan tematik, pendekatan musik serta proses rekaman album AWAKE juga memperlihatkan metamorfosis teknis yang unik dari para personel L'Arc~en~Ciel.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun melewati proses produksi yang cenderung individualistik di studio, keempat personel Laruku, mulai dari hyde, ken, tetsuya, dan yukihiro, memutuskan untuk berkumpul bersama di satu ruang latihan untuk menggodok dan mematangkan demo lagu.
Ken mengungkapkan bahwa metode kerja kolektif ini mengembalikan kehangatan dan solidaritas di dalam tubuh band. Ia menandai perbedaan mendasar dari album sebelumnya.
Dlam album SMILE, para personel Laruku bersatu karena materi lagunya sudah tercipta secara terpisah. Namun, dalam penggarapan AWAKE mereka memilih untuk menyatukan visi dan rasa sebagai empat sahabat terlebih dahulu, baru kemudian membiarkan musik lahir secara alami dari kebersamaan tersebut.
Unsur eksplorasi lain yang menarik dalam album ini adalah kehadiran lagu "My Dear" dan "Ophelia". Kedua lagu berlaras tenang dan bernuansa art-rock ini sebenarnya diciptakan oleh hyde pada tahun 2001 untuk proyek album solo debutnya, ROENTGEN.
Namun, karena saat itu hyde mendadak mengubah arah musik solonya menjadi lebih keras dan berdistorsi tinggi pada album 666 pada tahun 2003, kedua lagu tersebut disimpan di dalam arsip pribadinya. hyde kemudian menyerahkan lagu-lagu tersebut kepada L'Arc~en~Ciel untuk diaransemen ulang secara kolektif. Hasilnya adalah warna musik ambient yang sangat matang dan memperkaya variasi atmosfer di dalam album AWAKE.
Dari instrumen gitar, ken mengaku sempat kehilangan orientasi dalam memandang pergerakan industri musik dunia pada pertengahan dekade 2000-an yang dinilainya terlalu mekanis, mengejar komersialisasi instan, dan kehilangan jiwa.
Namun, perspektif ken kembali jernih setelah ia mendengarkan ulang karya-karya klasik dari dua grup musik dengan spektrum genre yang saling berlawanan, yaitu grup pop harmonis Carpenters dan band pionir heavy metal Black Sabbath.
Ken menyadari bahwa daya tarik utama dari kedua grup legendaris tersebut terletak pada ketulusan dan kejujuran tanpa beban dalam mengekspresikan musik mereka. Inspirasi ini mendorong ken untuk melepaskan segala kebiasaan tampil sekadar untuk terlihat keren. Sang gitaris menggantinya dengan komitmen untuk menumpahkan 100 persen ketulusan emosinya ke dalam setiap petikan dan distorsi gitar di album AWAKE.
Makna Judul Album AWAKE dan Konsep Visual Panggung
Penentuan judul album AWAKE, yang bermakna terbangun, tersadar, atau tercerahkan, diputuskan oleh oleh hyde. Kata ini dipilih untuk mewakili harapannya agar masyarakat dunia yang sedang tertidur lelap dalam kepatuhan buta dan keserakahan dapat segera terbangun.
Hyde berharap publik menyadari bahwa hal-hal esensial yang paling berharga dalam hidup manusia adalah kasih sayang, kehangatan keluarga, serta kedamaian bersama, bukan pertikaian tanpa akhir demi mengejar kekuasaan politik atau akumulasi materi.
Hyde menegaskan gagasannya bahwa manusia sering kali menderita amnesia terhadap sejarah panjang peperangan dan masa lalu yang kelam. Namun, upaya untuk menyadarkan kembali nilai dasar kemanusiaan adalah sebuah perjuangan nyata yang harus disuarakan melalui karya seni.
Pesan ideologis tersebut diterjemahkan secara teartikal dalam rangkaian tur konser AWAKE TOUR 2005. Di bagian awal pertunjukan, hyde naik ke atas panggung dengan mengenakan seragam militer berwarna hitam lengkap dengan atributnya, memberikan impresi yang dingin dan otoriter.
Di pertengahan konser, ia berganti pakaian menggunakan jubah keagamaan putih ala uskup, menciptakan kontras yang tajam. Pertunjukan kemudian mencapai puncaknya di bagian penutup ketika hyde menanggalkan seluruh kostum militer dan atribut keagamaannya tersebut di atas panggung, hingga ia hanya menyisakan kemeja putih polos tanpa hiasan.
Mengenai pilihan busana militernya yang sempat memicu perdebatan dan tanggapan provokatif dari sebagian kalangan, hyde memberikan pernyataan yang sangat ikonik. Tindakan tersebut ukan untuk gagah-gagahan atau mengagungkan simbol keprajuritan, melainkan justru untuk memamerkan proses mencopot dan membuang seragam tersebut di hadapan ribuan penonton.
Tindakan ini menjadi simbolisme visual yang sangat kuat mengenai penolakan total terhadap militerisme. Tindakan tersebut juga merupakan seruan untuk melepaskan segala sekat doktrin demi kembali ke fitrah manusia yang murni. Tata panggung tur ini juga dilengkapi dengan instalasi logo Peace Sign (simbol perdamaian) berukuran raksasa yang menyala terang di atas area pertunjukan.
Ulasan Pengamat Musik Soal AWAKE
Saat resmi dirilis ke pasaran pada 22 Juni 2005, album AWAKE mendapatkan sambutan komersial yang luar biasa dari publik pendengar dengan sukses memuncaki Oricon Chart Weekly di Jepang. Pencapaian ini mengembalikan L'Arc~en~Ciel ke tangga album nomor satu untuk pertama kalinya dalam kurun waktu empat tahun sejak perilisan album kompilasi Clicked Singles Best 13 pada tahun 2001.
Tidak hanya sukses secara penjualan, AWAKE juga mendulang pujian dari kalanga jurnalis musik terkemuka di Jepang, Misalnya, kritikus musik Uno Yoshiimasa, dalam ulasan uuntuk majalah ROCKIN'ON JAPA.
Uno menuliskan bahwa jika album SMILE pada tahun 2004 berfungsi sebagai bentuk rehabilitasi fisik dan pemulihan stamina bagi L'Arc~en~Ciel setelah melewati masa vakum panjang, maka album AWAKE adalah sebuah bentuk renaisans spiritual yang sesungguhnya bagi band tersebut.
Uno mengagumi kejujuran idealisme hyde serta keberanian para personelnya untuk tidak bersembunyi di balik citra pop bintang rock, melainkan berani melangkah maju menyuarakan narasi antiperang yang terstruktur dan matang.
Ulasan positif juga datang dari kritikus Dai Onojima yang menulis untuk majalah WHAT's IN?. Onojima menyatakan bahwa album AWAKE menyemburkan energi yang sangat segar, dinamis, dan penuh vitalitas. Lagu-lagu di dalam album ini dimainkan dengan tingkat emosi yang membara, seolah-olah karya tersebut diproduksi oleh sebuah grup musik rock yang baru saja terlahir di sebuah dunia baru..
Album AWAKE adalah monumen sejarah dalam perjalanan karier L'Arc~en~Ciel. Di tengah ketidakpastian dunia dan berkecamuknya konflik militer global pada pertengahan dekade 2000-an, hyde, ken, tetsuya, dan yukihiro memilih untuk tidak bersikap apatis. Mereka memanfaatkan popularitas dan instrumen musik mereka sebagai media untuk mengekspresikan keprihatinan, empati, dan harapan akan masa depan peradaban yang lebih beradab.
Hyde sempat bersikap realistis dengan menyatakan bahwa sebuah album musik mungkin tidak akan serta-merta sanggup menghentikan letupan meriam atau mengubah kebijakan dunia secara instan.
Namun, AWAKE tetap berdiri kokoh sebagai bukti nyata bahwa di balik kerasnya dentuman drum, raungan distorsi gitar, dan gemuruh musik rock, L'Arc~en~Ciel berhasil melantunkan sebuah seruan perdamaian yang abadi, jujur, dan tidak akan pernah padam oleh zaman.

0 Comments
Silakan berdiskusi dengan sopan. Komentar akan muncul setelah dimoderasi