Tahun 2002, sebuah surat mendarat di tangan para personel L'Arc~en~Ciel. Isinya singkat dan menghantam: Hyde menyatakan niatnya untuk mengundurkan diri dari posisi vokalis. Tanpa pengumuman ke publik, band rock terbesar di Jepang itu mendadak berdiri di tepi jurang pembubaran.
Publik saat itu hanya mengetahui Laruku sedang vakum sejak rilisnya single "Spirit dreams inside -another dream-" pada September 2001. Keempat personel sibuk mengejar proyek solo masing-masing. Padahal di balik layar, ruang ganti mereka sedang terbakar. Opsi mencari vokalis baru langsung dicoret dari meja. Bagi tetsuya, ken, dan yukihiro, L'Arc~en~Ciel tanpa Hyde sama artinya dengan selesai.
Bagaimana sebuah surat perpisahan yang hampir mematikan mesin L'Arc~en~Ciel justru berbalik menjadi bahan bakar lahirnya album SMILE? Ini adalah catatan sejarah tentang titik terendah Laruku, negosiasi sunyi di balik panggung, dan reuni yang mengembalikan senyum mereka.
Niat Mundur Hyde dan Rencana Laruku Bubar
Setelah single "Spirit dreams inside -another dream-" dirilis pada September 2001, L'Arc~en~Ciel memasuki masa hibernasi panjang tanpa kejelasan status. Keempat personel memilih jalan masing-masing.
Hyde membenamkan diri dalam estetika akustik ROENTGEN lalu beralih ke rock alternatif lewat 666. Ken mendirikan SONS OF ALL PUSSYS (S.O.A.P) yang kental warna hard rock. Tetsuya merilis karya pop-rock memakai nama TETSU69 lewat album Suite November. Sementara itu, yukihiro terus bereksperimen dengan elemen industrial bersama acid android.
Di tengah padatnya jadwal solo tersebut, Hyde mencapai titik jenuh tertinggi. Pada 2002, sebelum album ROENTGEN dilepas ke pasaran, ia mengambil keputusan radikal dengan mengirimkan surat pengunduran diri kepada tiga rekannya. Jadwal kerja tanpa henti selama bertahun-tahun serta tekanan internal membuat posisi vokalis terasa begitu menghimpit.
Mendapati surat tersebut, tetsuya bertindak cepat. Ia mengumpulkan ken dan yukihiro untuk duduk bersama tanpa melibatkan pihak manajemen atau label. Dalam ruang tertutup itu, tidak ada satu pun personel yang mencetuskan ide untuk mencari vokalis pengganti. Keputusan mereka bulat: jika Hyde keluar, L'Arc~en~Ciel dibubarkan secara total.
Tetsuya lalu mengajak Hyde bertemu secara personal dari hati ke hati. Dalam obrolan empat mata tersebut, Hyde akhirnya menumpahkan ganjalan yang selama ini mengendap, terutama soal atmosfer dalam band dan hubungan dengan pihak manajemen. Dari kesepakatan untuk merombak sistem kerja dan membenahi komunikasi inilah, keputusan pembubaran berhasil dibatalkan.
Kisah di balik pintu tertutup ini baru terkuak sepuluh tahun kemudian. Hyde membeberkan sudut pandangnya lewat otobiografi THE HYDE (2012), sedangkan tetsuya melengkapi kepingan puzzle tersebut melalui buku wawancara Tetsugaku 2. (2012).
Konser "Shibuya Seven Days" dan Terbukanya Lembar Baru
Guna menyapu bersih rumor pembubaran yang terus digoreng media gosip, L'Arc~en~Ciel menyiapkan panggung kembalinya mereka pada pertengahan 2003. Dimulai dari konser rahasia Akasaka Zero day khusus anggota fanclub, mereka melanjutkan aksi lewat rangkaian pertunjukan Shibuya Seven days 2003 di Yoyogi National Gymnasium dari akhir Juni hingga awal Juli 2003.
Penggunaan angka tujuh pada judul konser mengandung makna ganda yang kuat, melambangkan jumlah warna pelangi sekaligus masa penciptaan dalam kitab kuno. Di atas panggung Yoyogi, keempat personel Laruku memamerkan energi baru hasil tempaan proyek solo. Salah satu momen paling berkesan hadir saat pembawaan lagu "trick", saat hyde, ken, tetsuya, dan yukihiro bergantian memegang mic utama. Pengalaman memimpin proyek solo membuat kemampuan vokal serta rasa percaya diri tiap anggota meningkat pesat.
Tepat di penghujung malam terakhir, layar raksasa panggung mendadak menyala memuat pengumuman penting: 2004, New Album Release. Spekulasi kiamat Laruku runtuh malam itu juga.
Ken mengaku sempat merasa bingung dan dipenuhi ketidakpastian sebelum konser tersebut digelar.
"Jujur, waktu itu aku merasa, kapan ya kita bakal mulai? Bakal mulai atau enggak ya? Tapi ya, ada beberapa lagu yang sedikit-sedikit ingin aku mainkan di Laruku. Sebelum 'Shibuya Seven days 2003' diputuskan, itu masa paling bikin mikir 'bakal jadi gimana ya?'. Begitu empat orang yang sudah sama-sama dewasa ini berkumpul lagi, tidak ada yang berubah secara drastis. Rasanya seperti biasa," kenang ken.
Mengenai masa vakum yang sempat menghentikan langkah band, ken juga menambahkan sisi positif yang ia rasakan.
"Rasa lelah jadi hilang. Cowok yang tadinya terus-terusan mengeluh capek ini akhirnya bisa istirahat," ujar ken sambil tertawa.
Sementara itu, yukihiro sejak awal memegang keyakinan penuh bahwa kapasitas musikal L'Arc~en~Ciel masih sangat jauh dari kata habis.
"Aku dari awal memang ingin terus jalan. Karena aku pikir Laruku masih sangat bisa berbuat banyak. Secara bermusik kami sama sekali tidak jalan di tempat, dan rasanya tidak seharusnya berakhir dengan cara seperti ini," ungkap yukihiro.
Filosofi SMILE & Revolusi Laruku Setelah Era Karier Solo
Seminggu setelah konser di Yoyogi rampung, proses garap album kesembilan resmi dimulai pada 13 Juli 2003 dan berlanjut hingga Januari 2004. Pendekatan aransemen kali ini bergeser drastis dari album REAL (2000). Jika sebelumnya mereka gemar menumpuk lapisan efek dan pengolahan rekaman rumit, kini fokus dikembalikan pada fondasi tiga instrumen utama: gitar, bas, dan drum.
Kembali ke studio dengan pengalaman proyek solo membawa penyegaran besar bagi seluruh personel. Hyde merasakan adanya perbedaan atmosfer dibandingkan masa sebelum vakum.
"Tetap ada rasa nostalgia dengan Laruku yang dulu, sekaligus ada evolusi baru yang keluar lewat suara kami. Hal-hal yang biasa tetap ada, tapi bagian yang berkembang benar-benar terasa bedanya. Sambil saling menghargai satu sama lain, menjadi solo memang terasa lebih ringan. Dalam artian itu ada beberapa hal yang terasa berat di band, tapi kami belajar untuk saling menghormati," tutur Hyde.
Evolusi ini merambat ke seluruh personel. Hyde menemukan kembali kepekaan melodi pop dari pengerjaan ROENTGEN. Lirik-liriknya berbelok arah dari yang biasanya dipenuhi penderitaan menjadi lebih terbuka dan optimistis.
"Belakangan ini aku makin suka cerita happy end. Bahkan saat nonton film, happy end justru makin bikin terharu. Lagu-lagu Laruku biasanya banyak yang menyentuh dan emosional, tapi kali ini aku ingin menulis lirik dengan perasaan lepas, ingin menyampaikan lirik yang sampai ke hati orang lewat rasa bahagia. Kalau sekarang aku bikin lirik sedih, rasanya malah bakal keliatan bohong banget," jelas Hyde.
Ken menanggalkan aransemen gitar yang rumit. Terpengaruh gaya mainnya di S.O.A.P, ia memilih karakter suara gitar yang mentah dan bertenaga, mengandalkan kombinasi murni antara gitar dan amplifier tanpa banyak bantuan instrumen latar buatan.
"Dulu aku suka mikir buat bikin lagu dengan gaya khusus, bikin ritme aneh buat bikin kaget, atau pakai arpeggio bergaya The Cure. Sekarang aku kembali lagi ke dasar. Mau itu loud rock atau hard rock, aku cuma ingin kami bisa menikmati musik rock yang simpel dengan baik," tegas ken.
Tetsuya makin terasah dalam merangkai komposisi setelah bekerja sama dengan sembilan arranger di album solo Suite November. Pengalaman tersebut membuatnya paham persis formula lagu seperti apa yang paling cocok dibawakan oleh L'Arc~en~Ciel.
"Lewat Suite November, aku jadi paham cara membuat laguku sendiri, tahu kelebihanku di mana, dan tahu lagu seperti apa yang ingin kutulis berikutnya. Setelah paham hal itu, aku seperti terbangun kembali untuk menulis lagu di Laruku," kata tetsuya.
Yukihiro menyumbangkan ide-ide ritme yang presisi, bahkan merelakan draf lagu berkarakter keras yang awalnya ia siapkan untuk acid android agar bisa digarap bersama Laruku. Pengalaman memimpin proyek solo dari seluruh anggota juga membuat harmoni vokal latar di album ini terdengar jauh lebih tebal dan hidup.
Produser Hajime Okano mencatat bahwa sejak era SMILE, tiap personel menunjukkan tingkat kemandirian tinggi dengan membawa materi pre-production yang sudah sangat matang dari studio pribadi mereka.
Nama SMILE dicetuskan oleh Hyde setelah ia membaca ulang seluruh draf lirik yang ia tulis dan menemukan kata "senyum" berulang kali muncul. Bagi Hyde, senyuman adalah bentuk ekspresi tertinggi yang setara dengan kasih sayang.
"Masing-masing dari kami melakukan kegiatan solo dan kembali menyadari kelebihan satu sama lain. Saat empat orang ini berkumpul lagi, kami bisa saling mengisi. Itu bagian yang sangat smile. Tapi di luar itu, aku juga menaruh harapan ke depannya. Bukan berarti sekarang tidak tersenyum, tapi aku ingin kami terus tersenyum ke depannya," ungkap Hyde.
Tetsuya dan ken menyambut judul ini dengan gembira. Tetsuya mengaku senang karena judul itu terasa sangat mencerminkan karakter L'Arc~en~Ciel. Sementara ken merasa kata SMILE merangkum suasana gembira dari rekaman serta lirik lagu yang penuh semangat ke depan. Yukihiro yang awalnya merasa heran pun akhirnya sepakat bahwa nama tersebut sangat pas dengan atmosfer band saat itu.
Dampak Global SMILE dan Titik Balik Sejarah Laruku
Dipoles lewat tangan dingin master engineer Howie Weinberg di Masterdisk, New York, album SMILE resmi dilepas ke pasaran pada Maret 2004. Album ini memuat lagu-lagu hits seperti "READY STEADY GO", "Hitomi no Juunin", hingga "Spirit dreams inside" ditambah 7 lagu lain.
Eksistensi SMILE sekaligus menjadi kunci pembuka gerbang internasional bagi L'Arc~en~Ciel. Pada 29 Juni 2004, label Tofu Records yang didirikan Sony Music Entertainment merilis edisi khusus Amerika Serikat dengan 10 tracks asli ditambah lagu bonus "READY STEADY GO (hydeless version)".
Sebulan berselang, tepatnya 31 Juli 2004, Laruku mengukir sejarah dengan menggelar konser perdana di AS bertajuk Live in USA di First Mariner Arena, Baltimore, sebagai bagian dari konvensi Otakon 2004.
Di luar dugaan manajemen, sebanyak 11.000 penonton memadati arena dan menggetarkan lantai stadion bahkan sebelum konser dimulai. Kehadiran masif para penggemar di Baltimore membuktikan bahwa karya mereka, yang makin dikenal lewat soundtrack anime Fullmetal Alchemist, telah menembus batas budaya. Momen ini menjadi titik pijak utama yang memicu rangkaian tur dunia L'Arc~en~Ciel di tahun-tahun berikutnya.
SMILE bukan cuma sebatas album studio kesembilan dalam katalog L'Arc~en~Ciel. Album ini adalah simbol kemenangan atas krisis internal terhebat mereka. Dari sebuah surat pengunduran diri yang nyaris menghentikan langkah band, mereka berhasil merawat retakan tersebut dan kembali menyapa dunia dengan senyuman yang utuh.

0 Comments
Silakan berdiskusi dengan sopan. Komentar akan muncul setelah dimoderasi