L'Arc~en~Ciel berdiri di puncak kancah rock Asia berkat keberanian menjelajahi genre tanpa batas. Sepanjang kariernya sejak era 90-an, kuartet asal Kansai ini meramu gothic rock, post-punk, synth-pop, hingga industrial metal menjadi satu kesatuan pop-rock komersial. Musikalitas mereka juga selalu berkembang dari album ke album, mulai dari DUNE (1993) hingga BUTTERFLY (2011).
Karakter kolektif L'Arc~en~Ciel lahir langsung dari benturan latar belakang dan selera musik yang sangat bertolak belakang di antara para personelnya.
Melihat daftar musisi yang memengaruhi Hyde, Tetsuya, Ken, dan Yukihiro (juga Sakura sampai 1997) sama seperti membaca pemetaan sejarah rock dunia era 80-an hingga hari ini. Tiap anggota membawa selera pribadi ke dalam studio. Saat ide-ide itu disatukan, L'Arc~en~Ciel menghasilkan komposisi yang kaya warna.
Akar Bersama yang Menyatukan Laruku dan Pengaruh DEAD END
Meskipun isi kepala tiap personel beda arah, mereka punya titik temu di satu wilayah: gelombang new wave dan post-punk Inggris era 1980-an, serta kancah rock estetis lokal Jepang. Persinggungan selera ini memberi L'Arc~en~Ciel arah artistik yang tajam sejak terbentuk di Osaka pada 1991.
Empat nama dari Inggris memegang peranan kunci dalam membentuk karakter suara mereka, yakni The Cure, Johnny Marr, U2, dan Depeche Mode. Dari mereka, L'Arc~en~Ciel menyerap penggunaan efek guitar delay, bass line yang seakan bisa bersenandung, serta atmosfer vokal yang dramatis.
Sementara itu, dari dalam negeri Jepang, grup rock legendaris DEAD END menjadi panutan utama Laruku. Atmosfer gelap dan lirik puitis DEAD END memberi pengaruh langsung pada album-album awal seperti DUNE dan Tierra.
Masahiro Oishi selaku pimpinan manajemen mengingat jelas masa-masa awal mendampingi L'Arc~en~Ciel. Ia mendapati para personel lebih sibuk memutar piringan hitam rock independen Inggris daripada lagu pop mainstream.
Tetsuya berulang kali menyebut The Cure sebagai panutan utamanya dalam membuat lagu. Di studio latihan, Ken juga kerap meminta Hyde mencoba gaya vokal yang mengalun ala Robert Smith saat menggarap trek-trek atmosferik.
Akar Hyde: dari Jukebox Pop, Kelamnya Gothic, Hingga Agresi Metal Modern
Sebagai vokalis utama dan penulis lirik, Hyde menentukan arah visual serta narasi L'Arc~en~Ciel. Jangkauan vokalnya bergerak bebas dari bisikan lembut hingga teriakan parau, mengikuti jejak panjang musik yang ia dengarkan sejak kecil.
Eksplorasi musik Hyde bermula di Prefektur Wakayama. Masa kecilnya diwarnai lagu-lagu pop dari jukebox milik orang tuanya, terutama karya Billy Joel dan grup legendaris Off Course. Saat remaja di pertengahan era 80-an, perhatiannya tersedot oleh gerakan new romantic. Penampilan serta sajian musik Culture Club, Duran Duran, dan Spandau Ballet menyadarkan Hyde pentingnya konsep visual dalam bermusik.
Ketertarikan Hyde bergeser lebih dalam saat mengenal kancah gothic rock. Ia mempelajari gaya vokal tebal dari David Bowie, David Sylvian (Japan), Depeche Mode, dan The Cure. Pembawaan vokal Hyde yang teatrikal dipengaruhi oleh penyanyi seperti Ian Astbury (The Cult), Wayne Hussey (The Mission), dan Jim Morrison (The Doors). Di panggung lokal, ketegasan aksi punk GASTUNK dan Misfits mendorong Hyde untuk mulai membentuk band sendiri.
Memasuki era 90-an, Hyde menyerap energi alternative rock dari Nirvana, Dinosaur Jr., dan Radiohead. Ia juga mengagumi fleksibilitas vokal Dolores O'Riordan (The Cranberries), Björk, serta Stina Nordenstam. Ketika menggarap proyek solonya dan VAMPS, Hyde makin condong ke warna musik cadas. Ia rutin memutar karya Marilyn Manson, Slipknot, Linkin Park, hingga Bring Me the Horizon. Semua pengaruh ini mengendap dalam caranya mengolah vokal di L'Arc~en~Ciel.
Akar Tetsuya: Arsitek Bass Melodius dan Pengagum Pop Sejati
Sebagai pemimpin band dan bassist, Tetsuya memastikan lagu-lagu L'Arc~en~Ciel memiliki struktur pop yang kuat. Dentuman bass Tetsuya tidak pernah pasif di belakang. Ia terus bergerak mengisi ruang melodi, beriringan dengan petikan gitar dan vokal.
Selera musik Tetsuya terbentuk dari musik elektronik sejak sekolah dasar. Pada usia dua belas tahun, ia sudah menyukai eksperimen synthesizer Yellow Magic Orchestra (YMO) dan grup new wave Ippu-Do. Lewat YMO, Tetsuya memahami bagaimanakah tangga nada elektronik disusun agar ramah di telinga pendengar. Kepekaannya mengolah hook lagu diperkuat oleh lagu-lagu pop komersial milik Hall & Oates.
Saat gelombang post-punk masuk ke Jepang, Tetsuya mempelajari teknik para bassist Inggris. Ia membedah pola permainan bass dari The Cure, The Smiths, Japan, dan Duran Duran untuk memahami konsep melodic bassline. Di sisi lain, ketegasan ritmenya ditempa oleh musik keras lokal seperti DEAD END, LOUDNESS, dan FLATBACKER, yang ia padukan dengan gaya panggung glam metal ala Whitesnake.
Sebagai penentu arah aransemen, Tetsuya punya kepekaan tinggi terhadap tren musik global. Di era 90-an, ia menyerap kesederhanaan Britpop dari Oasis, energi Smashing Pumpkins, hingga groove modern milik Jamiroquai dan Garbage. Keterbukaan Tetsuya terus berjalan hingga era modern. Ia rutin mendengarkan grup rock abad ke-21 seperti Muse, The Killers, Fall Out Boy, dan Linkin Park untuk memperbarui gaya produksinya.
Akar Ken: Isian Gitar Atmosferik Eksplorasi Progresif
Jika Tetsuya mengurus struktur lagu, Ken mengisi ruang lagu dengan tekstur gitar yang kaya. Gaya permainan Ken membentang lebar, mulai dari petikan akustik, ritme funk, hingga solo gitar penuh distorsi pada lagu-lagu seperti Neo Universe dan Kasumi.
Kepekaan nada Ken tumbuh dari lingkungan keluarganya. Ayahnya sering memutar rekaman terompet Nini Rosso, sementara kakaknya menggemari lagu-lagu folk buatan Chiharu Matsuyama. Tiupan terompet emosional dan melodi folk tersebut melatih Ken menyusun solo gitar yang panjang dan bernyanyi.
Ken mulai mendalami gitar saat remaja dengan mempelajari riff hard rock era 70-an. Ia melatih ketangkasan jarinya lewat lagu-lagu Iron Maiden, Scorpions, Led Zeppelin, serta virtuoso seperti Yngwie Malmsteen dan Gary Moore. Tak puas pada kecepatan jari semata, Ken mempelajari progressive rock lewat karya-karya Asia dan Pink Floyd untuk memahami tata cara membangun durasi lagu yang panjang.
Wawasan Ken makin kaya ketika ia mendalami jazz dan bossa nova. Isian akord Ken terpengaruh oleh permainan gitaris jazz Pat Metheny dan Bill Frisell. Ia juga menyerap ritme bossa nova karya Antonio Carlos Jobim serta petikan akustik Estas Tonne. Untuk urusan gitar elektrik, Ken mengawinkan teknik delay Johnny Marr (The Smiths) dengan gaya funk Red Hot Chili Peppers dan ketukan berat dari Meshuggah.
Akar Yukihiro: Sentuhan Industrial & Elektronik
Bergabungnya Yukihiro pada awal 1998 memberi warna baru bagi barisan ritme L'Arc~en~Ciel. Yukihiro membawa pola ketukan drum yang presisi, instrumen elektronik, serta gaya produksi modern yang menyegarkan karakter band di akhir era 90-an.
Fondasi drum Yukihiro berakar dari kancah post-punk yang kelam. Pukulan drumnya dipengaruhi oleh ketukan kaku khas Joy Division, Bauhaus, dan Siouxsie and the Banshees. Berbeda dari drummer rock pada umumnya, Yukihiro sangat terobsesi pada genre industrial dan Electronic Body Music (EBM).
Ia mengagumi cara kerja grup industrial seperti Ministry, Nine Inch Nails, dan Nitzer Ebb dalam menggabungkan drum akustik dengan sampel suara digital. Pengetahuannya mengenai musik elektronik diperdalam lewat kebiasaannya mendengarkan musik klub, techno, dan IDM dari 808 State serta Autechre. Yukihiro sering merancang aransemen drum dengan pola pikir seorang produser musik elektronik.
Di luar genre industrial, Yukihiro menyukai dinding suara tebal ala shoegaze My Bloody Valentine, ketukan downtempo Portishead, serta ritme nu-metal dari Korn. Di kancah domestik, ia menaruh hormat pada BUCK-TICK dan SOFT BALLET. Hingga kini, Yukihiro masih aktif mengikuti perkembangan musik indie rock dunia lewat nama-nama baru seperti Dry Cleaning, Yves Tumor, dan James Blake.
Tak bisa diabaikan, sejarah L'Arc~en~Ciel tetap melekat pada peran Sakura, drummer yang mengisi album DUNE, Tierra, Heavenly, hingga True. Sakura memberi fondasi drum yang dinamis dan fleksibel pada masa-masa awal penataan karakter suara band.
Masa kecil Sakura dihiasi oleh koleksi piringan hitam milik kakaknya, terutama album-album The Beatles. Pengaruh pop-rock klasik ini mengajarinya pentingnya menjaga alur ritme yang alami daripada sekadar memukul drum dengan keras. Saat masuk ke kancah underground, Sakura menyerap gaya gothic ala DEAD END namun membawakannya dengan pendekatan teknik yang berbeda.
Sebelum masuk L'Arc~en~Ciel, Sakura berpengalaman sebagai teknisi drum serta drummer pengganti untuk berbagai sesi latihan jam session. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada katalog jazz klasik terbitan label Blue Note dan hard rock era 70-an. Pendekatan jazz ini membuat pukulan drum Sakura di album-album awal L'Arc~en~Ciel kaya akan variasi perosotan cymbal serta ketukan simbal yang dinamis.
Beragamnya selera dari tiap personel sejalan dengan arti nama L'Arc~en~Ciel itu sendiri, yakni pelangi dalam bahasa Prancis. Tetsuya pernah menjelaskan bahwa di masa-masa awal, warna musik mereka mungkin masih terbatas pada nuansa gelap. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya referensi lagu dari tiap anggota, spektrum suara mereka melebar membentuk karakter yang utuh.
Sikap terbuka ini terus mereka bawa ke luar studio. Sejak era siaran radio mingguan FLYING~L'Arc~ATTACK pada era 90-an hingga pembuatan playlist streaming era sekarang, para personel rajin membagikan lagu-lagu favorit yang sedang mereka putar.
Tetsuya menegaskan bahwa bandnya tidak pernah menuntut pendengar untuk hanya fokus pada musik L'Arc~en~Ciel. Menurutnya, mengeksplorasi pelbagai genre musik dari banyak pencipta lagu adalah cara terbaik untuk menikmati seni. Keterbukaannya dalam mendengarkan musik inilah yang menjaga karya-karya Laruku tetap hidup dan relevan sepanjang zaman.
Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian artikel sejarah L'Arc~en~Ciel di Larukupedia. Anda dapat membaca bagian-bagian lainnya sebagai berikut.
Sejarah L'Arc~en~Ciel: Album DUNE yang Nyaris Tak Pernah Ada
Sejarah L'Arc~en~Ciel: Ketika Hyde Ingin Laruku Bubar, Lalu Lahirlah SMILE
Sejarah L'Arc~en~Ciel: Mengapa Awake Penuh Lagu Bertema Perang?
Biografi L'Arc~en~Ciel: Metamorfosis Lirik HYDE dari Masa ke Masa
.jpg)
0 Comments
Silakan berdiskusi dengan sopan. Komentar akan muncul setelah dimoderasi